Wednesday, January 30, 2008

Menghayati Peran Komunitas

Akhirnya pesta itu usai. Sebuah pesta sastra yang melibatkan sekitar 500 orang peserta. Mereka adalah sastrawan (penyair, esais, cerpenis, dan kritikus) bersama para penggemar sastra dan guru bahasa Indonesia. Meningkatkan Peran Komunitas Sastra Sebagai Basis Perkembangan Sastra Indonesia”, demikian tema yang digelar. Sepanjang tiga hari kegiatan berlangsung demikian padat di gedung DPRD Kudus. Sungguh sayang bila dilewatkan begitu saja.

Kongres yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di hari pertama, 19 Januari 2008, memang untuk kepentingan internal. Acara itu merupakan suksesi tiga tahunan, namun baru kali ini diadakan secara besar-besaran. Terpilih sebagai Ketua KSI periode 2008-2011 adalah Ahmadun Yosi Herfanda yang sehari-hari bekerja sebagai redaksi budaya harian Republika di Jakarta. Ia menggantikan Iwan Gunadi, ketua yang telah memberikan sedikit warna pada model organisasi. Selanjutnya, KSI akan menyiapkan struktur yang terlepas dari yayasan agar dapat bergerak lebih leluasa dan berkembang secara profesional. Kongres telah menghasilkan rekomendasi yang berisi sikap kritis dan kreatif terhadap kondisi politik, sosial, dan budaya akhir-akhir ini. Rekomendasi tersebut dibacakan oleh Diah Hadaning pada malam berikutnya seusai serah terima jabatan.

Pada malam pertama, panggung diisi dengan penampilan Sujiwo Tejo, Sutardji Calzoum Bachri, dan Mustofa Bisri (Gus Mus). Peserta dari lokal begitu bahagia mendapatkan kesempatan menonton seniman yang selama ini mereka kagumi. Penampilan Fatin Hamama, anggota KSI yang membuka cabang di Kairo, sangat memukau Thomas Budi Santoso, penyair sekaligus pejabat di PT. Djarum. Perusahaan rokok itulah, melalui program Djarum Bakti Pendidikan, yang menjadi sponsor kegiatan.

Pada hari kedua, 20 Januari 2008, sejak pagi hingga menjelang maghrib, digelar 4 sesi seminar dengan tema yang berbeda. Kesempatan pertama digunakan untuk melirik sastra lokal yang berkembang di Indonesia. Dengan tema “{Perayaan Komunitas Sastra di Daerah”. menampilkan pembicara Idris Pasaribu untuk menyampaikan sastra yang tumbuh di Sumatera. Mukti Sutarman SP, sastrawan dari Kudus, membahas pertumbuhan sastra di Jawa Tengah. Untuk daerah Kalimantan, diwakili oleh Micky Hidayat. Seperti yang pernah dibahas dalam kongres cerpen di Pekanbaru tiga tahun silam, potensi sastra daerah patut dijaga dan dikembangkan sebagai aset budaya yang memperkaya khazanah kesusastraan tradisional Indonesia.

Sesi kedua menyoroti komunitas sastra sebagai basis ideologi kesusastraan. Sebagai pembicara, Dendy Sugono dari Pusat Bahasa, Aji Suyitno dari Lemhanas, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Shiho Sawai sebagai pengamat sastra komunitas. Shiho adalah mahasiswa dari Jepang yang sedang melakukan riset dan kuliah di tingkat doktoral Sastra Indonesia Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Menurut Dendy, saat ini, sastrawan harus memiliki kemampuan yang kompetitif, selain cerdas dan kreatif. Ahmadun berpendapat, bahwa dalam sebuah komunitas, anggotanya tidak selalu berkarya dengan ideologi yang sama. Sangat menarik kesimpulan Shiho Sawai tentang komunitas. “Komunitas yang anggotanya menganut satu ideologi dan berkarya secara seragam hanyalah mitos.” Kenyataannnya memang demikian, bahwa para penyair ataupun cerpenis yang tergabung dalam satu komunitas tidak serta-merta memiliki pandangan yang sama dalam menulis.

Korrie Layun Rampan dan Maman Mahayana (semestinya bersama dengan Budi Darma, namun berhalangan) membicarakan tentang estetika dalam sastra komunitas. Masing-masing menyampaikan semacam kritik terhadap beberapa penghargaan sastra yang dianggap tidak mewakili kualitas. Dalam kesempatan itu, Maman Mahayana menyayangkan praktik pemilihan buku terbaik dalam anugerah sastra Khatulistiwa Literary Award karena proses penjuriannya sangat aneh. Korrie menyampaikan menyampaikan keprihatian adanya sejumlah sastrawan lokal dengan pencapaian karya yang baik secara makna maupun estetika, tapi tidak mendapat kesempatan untuk menonjol misalnya melalui kegiatan sastra yang berskala nasional. Mereka adalah mutiara tersembunyi yang harus dilibatkan agar potensinya muncul.

Pada sesi terakhir, bertema “Sastra sebagai Kebutuhan Pembaca”, menampilkan pembicara Habibirrahman El-Shirazy dan Saut Situmorang (sementara Arswendo Atmowiloto tak dapat hadir). Keduanya berangkat dari titik tolak yang berbeda. Kang Abik (panggilan Habiburrahman) menulis novel Ayat-Ayat Cinta dengan membayangkan dirinya sebagai pembaca yang harus menyukai bacaannya. Mungkin resep itulah yang membuat buku itu sampai naik cetak 29 kali dan kini telah beredar sebanyak 400.000 eksemplar. Best seller untuk Asia Tenggara! 

Saut Situmorang menganggap seseorang yang baru menulis sekali dan dimuat di media massa, tidak layak disebut sebagai penyair atau cerpenis. Tidak semudah itu menjadi sastrawan, apalagi jika tidak mendalami atau memahami teori sastra. Menanggapi pertanyaan peserta tentang masyarakat Indonesia yang malas membaca, Saut berpendapat bahwa ada perbedaan kultur yang melatarbelakangi hal itu. Perbandingan, menurutnya, harus sesuai dengan konteks.

Malam kedua, sejumlah penyair membacakan puisi mereka. Fikar W. Eda, Wijang Warek, Arsyad Indradi, Gunoto Saparie, dan Jose Rizal Manua. Penyair Solo, Sosiawan Leak, memukau dengan puisi “Dunia Bogam Bola”. Malam itu Thomas Budi Santoso juga naik ke panggung. Para peserta acara mendapatkan 3 buku yang diluncurkan pada pesta sastra itu: (1) Tesaurus Bahasa Indonesia susunan Eko Endarmoko, (2) Komunitas Sastra Indonesia, Catatan Perjalanan, dan antologi puisi yang berbagi dua penyair: (3) Nyanyian Sepasang Daun Waru dan Dunia Bogam Bola.

Di pengujung acara, pada hari ketiga, seluruh peserta diajak wisata budaya oleh panitia. Mula-mula seluruh rombongan dibawa ke pabrik rokok Djarum Kudus. Di sana, di depan buruh pabrik, beberapa penyair di antaranya Chavchay Syaifullah dan Saut Situmorang, membaca puisi. Setelah itu, rombongan dibawa ke Menara Kudus dan Museum Kretek. Menjelang tengah hari, rombongan mampir ke pusat jenang Kudus untuk memberi kesempatan membeli oleh-oleh.

  Ya, akhirnya pesta sastra itu selesai. Pertemuan yang telah memberi kesempatan silaturahmi para sastrawan dari berbagai daerah. Acara yang dihadiri oleh para wartawan, penerbit, dan para wakil komunitas itu memberi kesan mendalam. Dalam pesta itu pula para peserta disuguhi menu khas Kudus, misalnya lenthok (sejenis kupat tahu dengan kuah bersantan), asem-asem daging , juga soto Kudus tentu saja.

“Tunggu kegiatan kami berikutnya,” kata Wowok Hesti Prabowo sebagai Ketua Panitia. “Kami akan menyelenggarakan pertemuan penulis internasional dan KSI Award.”   Sebagai komunitas yang telah berusia 11 tahun (sejak September 1996), sudah waktunya untuk memberikan sumbangan terhadap kemajuan sastra Indonesia juga dunia.

(Kurnia Effendi)