Wednesday, January 23, 2008

Menginap di Roemahkoe

Aduh, kenapa saya tak berhasil mengingat, kapan saya menginap di Roemahkoe? Rasanya pada paruh akhir tahun 2004 atau pertengahan 2005. Sebuah cita-cita yang akhirnya tercapai sejak melihatnya pertama kali saat makan malam di sana. Ya, itu sebuah restoran. Tetapi juga sebuah penginapan. Sebuah hotel butik dengan hanya 13 kamar bernuansa “tempo doeloe”.

Mari saya ceritakan awalnya.

Ketika saya melakukan tugas kantor ke Solo, saya menginap di Hotel Lor In. Seperti biasa, saya selalu ingin mencoba makanan baru atau tempat makan baru. Seorang teman di Solo mengusulkan melalui sms: “Bagaimana kalau makan malam di rumahku?”

Saya sempat bingung. Apakah di rumahnya ada acara hajatan? Namun ketika ia datang ke hotel tempat saya menginap, ia menjelaskan: “Ada sebuah restoran namanya Rumahku. Kepunyaan Pak Akbar Tanjung.” Oh!

Sesampai di sana, ternyata bangunan yang kami tuju adalah sebuah rumah kuno di kawasan Laweyan, tempat industri rumahan batik Solo. Tempat parkirnya mungkin hanya dapat menampung sekitar 10 mobil, terlindung dinding, dengan dua akses: gerbang masuk dan gerbang keluar yang terbuat dari kayu jati kokoh. Dan ternyata nama restoran itu ditulis dengan ejaan lama: Roemahkoe. Di belakangnya tertera Bed and Breakfast. Tempat apa sebenarnya ini?

Kami memilih serambi belakang sebagai tempat duduk untuk makan. Ada suara organ tunggal dengan vokal merdu penyanyi perempuan sedang menyenandungkan lagu jazz. Kami duduk dan membuka menu. Seperti disesuaikan dengan model bangunannya, menu yang tertera juga jenis masakan rumahan Solo. Mi Jawa salah satunya. Ada juga sayur lodeh tapi tentu tak cocok disantap malam. Saya pun memesan wedang ronde.

“Ini juga sebuah penginapan. Kapan-kapan menginaplah di sini,” kata teman saya. “Kita bisa melihat kamar-kamarnya.”

Pramusaji yang mendengar percakapan kami membenarkan, bahkan bereaksi sebagai seorang marketing. “Mari saya antar melihat kamarnya.”

Ia pu bergegas mengambil kunci, lalu mengajak kami ke sebuah pintu kamar di seberang tempat kami makan. “Ini kamar tipe royal suite.”

Saya mendapati kamar dengan lantai kayu parket, sebuah ranjang kayu jati masa lalu, meja rias dan toilet yang sebagian menggunakan bahan gerabah. Saya bagai berada di sebuah kamar zaman Mataram. Penerangan memang menggunakan cahaya listrik tetapi ornamen di kamar itu masih mempertahankan gaya orisinal arsitek Jawa kuno yang sangat terpengaruh Belanda.

Kamar tipe yang lain juga ditunjukkan. Deretan kamar itu terletak di lingkar luar bangunan utama, berantara taman terbuka, ada teras yang ditempati sepasang kursi kayu dan rotan di depan kamar. Posisi deretan kamar itu membentuk huruf U, di sisi kanan dan kiri masing-masing ada empat atau lima kamar, di sisi belakang ada tiga atau empat kamar yang ditengahi sebuah ruang gamelan.

Saya mengambil brosur dan malam itu juga berjanji dalam hati akan menginap di Roemahkoe pada kesempatan tugas ke Solo berikutnya.

“Benar ini milik Pak Akbar Tanjung, mantan Menteri dan Ketua DPR itu?”

“Persisnya rumah ibunya Nina Tanjung. Juragan batik yang sukses di masa lalu. Kamar-kamar itu asli seperti awalnya, hanya dulu digunakan untuk membatik. Biasanya terdiri dari beberapa grup.”

Demikianlah, kesempatan itu benar-benar datang. Saya kembali bertugas ke Solo karena harus ikut site-meeting proyek pembangunan showroom Suzuki di Klaten. Saya minta kepada kepala cabang dealer di Solo untuk mengantar check ini di Roemahkoe. Saat itu, saya ingat, makan malamnya justru di lesehan nasi liwet Wongso Lemu.

Sepulang makan saya sempat ngobrol dengan sahabat yang malam itu singgah ke penginapan. Menjelang pukul 22, setelah teman saya pamit, saya beranjak ke kamar untuk mulai menikmati suasana masa lalu yang “dijanjikan” oleh brosurnya. Mudah-mudahan bukan justru hal-hal yang akan mengembangkan bulu roma, karena suasananya sungguh sunyi.

Saya masih membaca buku sambil berbaring ketika telepon kamar berdering.  Suara resepsionis laki-laki menanyakan pilihan sarapan untuk besok pagi. Saya memilih mi rebus dan telur setengah matang. Lalu percakapan berkembang sampai akhirnya dia tahu saya seorang alumnus desain interior dan penggemar buku. “Wah, kebetulan ada buku interior tentang Roemahkoe, disusun oleh Bu Nina Tanjung sendiri. Mau lihat?"

Saya tak jadi mengantuk, meninggalkan kamar menuju ruang tamu yang luas. Ketika saya sedang melihat-lihat buku itu, seraya bercerita bahwa saya juga seorang penulis, terlihat seorang perempuan cantik yang cukup familiar sedang berbincang dengan dua laki-laki di meja bundar sudut. Tanpa saya bertanya, resepsionis mengatakan: “Itu Bu Nina bersama tamunya.”

Kira-kira setengah ja kemudian, tamu Bu Nina Tanjung pamit, resepsionis memperkenalkan saya. “Bu Nina, ini tamu kita, seorang penulis juga.”

Di situlah, saya mencatat sebuah malam yang sangat berkesan. Tak pernah mengira akan berjumpa tuan rumah yang ramah. Nina Tanjung tak hanya bicara dengan hangat, melainkan juga memberi hadiah kepada saya sebuah buku memoar tentang Akbar Tanjung, suaminya. Saya mengucapkan terima kasih dan berjanji menukarnya dengan buku saya. “Bapa ke mana, Bu?”

“Tadi dia keluar sama temannya, rasanya ke Yogya. Pasti pulang lewat tengah malam.”

Seingat saya, perbincangan kami berlangsung sampai penyanyi dan pemain organ tunggal mengemasi alat musiknya, meninggalkan Roemahkoe. Dan seingat saya, sebelum check out pada pagi harinya, saya memotret seluruh bagian dari Roemahkoe, termasuk detail kacapatri yang banyak menghiasi dinding-dinding pemisah, juga daun pintu dan jendela. Seingat saya pula, setelah tiba di Jakarta, saya mengirimkan buku Bercinta di Bawah Bulan kepada Bu Nina. Saya masih menyimpan suratnya yang berharap saya menginap kembali di Roemahkoe, ditandatangani pribadi dan ada catatan: bukunya bagus, gaya bahasanya indah. Tentu saya tersanjung oleh pujian Nina Tanjung.

Kini saya tahu, rumah bergaya paduan art deco dan arsitektur Jawa itu didirikan oleh Ny. Poespo Soemarto, saudagar batik, pada tahun 1938 di Jalan Dr Radjiman 501, Solo, Jawa Tengah. Kini telah menjadi milik kakak-beradik Ny Minul Haryanto dan Ny Krisnina Maharani Tandjung. Tampaknya, suatu saat, saya akan kembali menginap disana untuk menulis buku. Dan kembali berbincang dengan Bu Nina yang cantik itu.

(Kurnia Effendi)