Monday, January 07, 2008

Sang Bengawan

Bengawan Solo, riwayatmu ini

Sedari dulu jadi perhatian insani

Musim kemarau, tak seberapa airmu

Di musim hujan air meluap sampai jauh

Mata airmu dari Solo

Terkurung gunung seribu

Air mengalir sampai jauh

Akhirnya ke laut…

Itu perahu, riwayatmu dulu

Kaum pedagang slalu naik itu perahu

            Itulah gubahan legendaris dari Gesang yang kini kembali sering terngiang.

“Tuhan, sayangi kami yang tak berdaya ini. Jauhkan dari bencana yang bertubi-tubi. Kami tahu, ini bukan amarah-Mu. Ini juga bukan dendam sungai ciptaan-Mu. Desa-desa kami yang terendam ini menjadi bukti keteledoran kami. Alam pemberian-Mu telah kami sia-siakan dengan perbuatan yang justru merugikan keluarga kami….”

Mungkin itu doa seorang muhlasin, seorang muhsin, yang kini tengah meringkuk dalam tenda pengungsian. Air matanya mengalir seperti hujan yang terus-menerus turun dari langit. Hatinya kelabu meniru warna langit. Dingin perasaannya seperti gigil cuaca, kota-kota yang kuyup, tempat persinggahan air Bengawan Solo. Angin menciutkan nyali, mengiris keperkasaan manusia, melubangi sanubari.

 Inilah bah terbesar sejak empat puluh tahun yang silam bagi sedikitnya 9 kota yang dilintasi Bengawan Solo. Sang Bengawan, sungai terpanjang di Pulau Jawa, sedang mengguriskan jejak: mirip tatto yang ditorehkan pada tubuh langsat. Luka mendalam. Membenam. Merendam dalam. Lima ratus lima puluh kilometer perjalanannya menandai pergantian tahun 2007 ke 2008 seraya menyerahterimakan duka yang mungkin tak terhapus dalam kenangan keluarga Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menjadi korban. Dari hulu ke hilir. Menghimpun perasaan sendu dari kegembiraan yang tersingkir.

Mata airnya bermula di Pegunungan Kidul, Wonogiri. Air yang bersiang-malam menyaksikan kehidupan desa-desa yang dilewati, menjadi sahabat para petani, menjadi sumber minum ternak yang digembalakan, menjadi pelengkap sehari-hari para pencuci pakaian, menjadi jalan raya perahu penyeberangan, tumpah ruah di Gresik, pesisir utara Jawa Timur.

Wonogiri, Pacitan, Sukoharjo, Klaten, Solo, Sragen, Ngawi, Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik; adalah kota-kota yang kini berbaris pucat membiru oleh genangan-genangan luas. Air pasang telah mengubah permukiman menjadi rawa-rawa. Berkelok-kelok sungai yang mengalir penuh cinta bertahun-tahun, kini meluap bagai menumpahkan rindu dendam.

Berpuluh tahun lalu, Gesang, komposer lagu Bengawan Solo yang kini telah berusia 90 tahun, menciptakan lagu yang liriknya terdengar sederhana. Namun kita tahu, sebagai seniman, Gesang dan kaum pujangga yang “weruh sakdurunge winarah”, seperti diutus untuk menuliskan kejadian di masa depan. Ia, seperti juga Chairil Anwar atau Ebiet G. Ade, secara “tidak sengaja” telah membuktikan peristiwa yang digubahnya. Mereka seolah perpanjangan tangan Tuhan, bertugas mengingatkan insan yang lain untuk selalu siaga, selalu menyadari betapa alam itu sanggup murka bila diperlakukan tidak semena-mena.

Ketika di suatu pagi Pak Gesang diminta menyenandungkan tembang ciptaannya itu, dalam sebuah reportase televisi, ada getaran yang menghubungkan musibah dengan lintasan ilham yang merasuki perasaannya tempo dulu. Giris mendengarnya. Dan tentu bukan kesedihan macam ini yang diharapkan melalui tafsir syair lagunya.

 “Di musim hujan, air meluap sampai jauh,” ujarnya. Tak hanya meluap, namun bertahan sebagai lautan kecil yang akan bersitahan dalam hari-hari dingin dan lapar. Bencana memang milik semua manusia di Bumi, tak harus dihubungkan dengan jumlah dosa yang disandang. Seperti juga pemberiannya yang dituang tak habis-habis kepada manusia sejak hulu sampai hilir. Berapa juta petani diberkati hingga padinya berbulir-bulir membikin sejarah prestasi para penyantap nasi? Berapa ribu industri dan keluarga yang telah memanfaatkan deras aliran airnya untuk hasil yang telah membangun kesejahteraan turun-temurun?

Mungkin kita lupa berterima kasih. Mungkin sebagian besar kita di pesisir sungai justru sibuk membuang limbah pabrik sepanjang hari dan sepanjang tahun sehingga mencemari vegetasi di dalamnya. Kita tak lagi melihat air jernih yang sesekali menjadi tempat berkaca langit dan matahari. Tinggal aliran keruh air yang di kala malam berbulan, berkilat-kilat samar. Barangkali kita juga lupa, bujur tubuh basahnya pernah menjadi tempat telungkup sebuah pesawat Garuda penerbangan GA 421 yang menyelamatkan hampir seluruh penumpangnya.

Dari jauh, dari Jakarta yang juga kuyup dan menggigil, saya tak sanggup menolong dengan kedua tangan. Kecuali saya tengadahkan dengan bisikan doa setelah salat. Doa sederhana. Alfatihah yang gemetar. Semoga penderitaan segera diangkat dari kehidupan sedih berhari-hari itu, tentu oleh kekuatan Tuhan: yang menciptakan sungai-sungai.

Saya pun terkenang akan getaran suara Leo Kristi ketika mengenang bencana di Tanah Negara, Bali. Ia bisikkan dengan rasa duka mendalam kata “bencana” hingga enam belas kali. Siapa tahu, Sang Bengawan yang telah melekatkan sejarah, termasuk banjir darah zaman PKI 1948 yang mengerikan itu, akan menggugah seorang seniman (entah siapa) musik untuk menyimpan dalam pendengaran. Atau sanggup memancing sastrawan untuk mengekalkannya melalui sehamparan huruf bermakna.

 “Air mengalir sampai jauh… akhirnya ke laut.”

Laut yang penuh rasa garam adalah wakil kebijaksanaan umat manusia. Seluruh “petualangan hidup” memang harus berakhir di laut. Harapan kita, air yang berlebihan menenggelamkan berpuluh kota dan beratus kecamatan itu segera surut terhisap Sang Laut yang luas perasaannya tak terukur hitungan manusia.

Penderitaan, bagaimanapun, hanya dapat dilerai oleh kearifan dan keihlasan seorang muhlasin. Mari belajar menuju “tahta” tersulit itu. ***

(Kurnia Effendi, untuk Parle edisi 120)