Friday, January 11, 2008

Baik dan Laris

Berbicara tentang karya lokal Indonesia, antara buku yang baik (terkait kualitas materi) dan buku yag laris (terkait dengan jumlah penjualan) seperti digariskan oleh “takdir” masing-masing. Jika buku memiliki dua keberhasilan sebagai buku yang baik dan laris, harapan pengarang dan penerbit tercapai secara bersama-sama.

Dalam dunia penerbitan, juga bagi seorang pengarang, ada istilah “kutukan 3000”. Itu terjadi ketika buku diterbitkan dalam 3000 eksemplar, beruntung habis dalam kurun waktu tertentu, dan tidak lagi dicetak ulang. Kebanyakan yang terjadi, cetakan perdana akan mengalami penjualan besar pada bulan pertama, selanjutnya menurun dan menurun, sampai akhirnya stagnan pada jumlah sisa tertentu. Kasus seperti ini akan membuat (1) pengarang menilai dirinya belum sanggup membetot minat pembaca, (2) penerbit menghitung uang produksi yang terhenti dan belum kembali (3) toko buku harus mengganti display dengan judul buku lain yang sudah menanti giliran (4) distributor mengatur gudang untuk menerima retour buku dan segera mengembalikan kepada penerbit.

Di mana posisi pembaca? Mereka adalah raja. Mau beli atau tidak, selain tergantung dari ketertarikannya pada buku itu, juga mengingat jumlah uang yang dimiliki. Buku di benak sebagian masyarakat masih menjadi barang mewah. Meskipun ada yang tampak ironis, ketika kopi secangkir lebih mahal dari harga buku, toh banyak orang yang masih memilih kopi. Padahal usia kopi secangkir hanya sekian permil dari sebuah buku.

Oleh keunikan posisi pembaca (yang belum tentu pembeli buku) diperlukan kerjasama yang bagus antara pengarang dan penerbit. Meskipun keduanya berbeda target: pengarang ingin bukunya dibaca, sedang penerbit ingin bukunya dibeli; keduanya punya sasaran yang sama.

Dari pengamatan saya pribadi, kesuksesan sebuah buku didukung oleh sejumlah strategi yang dilakukan oleh pengarang dan penerbit, secara terpisah maupun bersama-sama. Penerbit bahkan sudah mulai menimbang buku itu sejak awal pembacaan naskah. Dari titik itu, penerbit sudah membayangkan jauh ke depan, apakah modal yang akan ditanam untuk penerbitan buku itu bakal kembali dan menguntungkan. Siapa pengarangnya? Pertanyaan itu menjadi modal pertama pertimbangannya. Itu saja tak cukup, sebab materi bukunya harus baik. Baik menurut siapa? Kembali sang analis bekerja dengan melihat pasar hari ini dan pasar tahun selanjutnya. Akhirnya tren yang (sebenarnya dapat diciptakan) berlangsung di kalangan pembaca, menjadi pertimbangan berikutnya. Ini jika ingin mengikuti arus. Bila penerbit hendak melawan arus, diperlukan pula survei (kecil-kecilan atau besar-besaran) untuk melihat kecenderungan. Pokoknya urusannya jadi panjang. Perlu diperhitungkan pula durasi yang diperlukan sejak penyuntingan sampai peredaran buku. Dengan momentum tertentu, buku harus terbit tepat waktu, demi mendapatkan “emosi” publik dalam penjualan yang singkat.

Ketika penyelenggaraan Indonesian Idol pertama kali memasuki babak final, sebagai contoh, penerbit KataKita membuat profil setiap finalis dengan memasukkan jurus untuk berhasil terpilih menjadi kandidat penyanyi idola. Proses penerbitan dilakukan secara sprint (dalam istilah lomba lari), jangan sampai event Indonesian Idol keburu selesai. Jadi, memang harus ada perilaku pintar di balik terbitnya buku-buku.

Buku yang baik belum tentu laris, buku yang laris belum tentu baik. Pengarang harus menyadari betul kondisi ini. Pengarang yang sudah ‘mati-matian’ mengambil jalan sastra (sebagai istilah saja, seperti Musashi yang memilih “jalan pedang”) akan tercengang ketika bukunya kalah laris dibanding buku yang ditulis oleh para artis sinetron atau penyanyi. Bukan hanya tercengang, melainkan sedih, dan mungkin sedikit putus asa karena rejekinya diserobot oleh para pesohor. Nah, kata kuncinya adalah tersohor. Untuk menjadi tersohor, tentu juga tidak mudah. Kembali lagi harus menulis yang baik dulu.

Fakta membuktikan bahwa pengarang yang berhasil umumnya memiliki beberapa kelebihan. Pertama, tentu karya yang baik (soal “baik” ini memang dapat diperdebatkan). Kedua, memiliki jaringan. Ketiga, bersedia mempromosikan bukunya sendiri. Keempat, tidak berhenti menulis, sehingga ada lagi yang ditunggu oleh pembaca.

Mari kita lihat beberapa contoh. Habiburrahman El Shirazy dengan bukunya Ayat-Ayat Cinta (Penerbit Republika) sudah menjual lebih dari 100 ribu eksemplar bukunya. Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi (dilanjutkan Sang Pemimpi dan Edensor, diterbitkan oleh Bentang Pustaka), nyaris memasuki angka 50 ribu eksemplar. Moamar Emka melalui Jakarta Undercover (diterbitkan oleh GagasMedia), dan Saman karya Ayu Utami (melalui penerbit Kepustakaan Populer Gramedia) telah mengalami beberapa kali naik cetak. Catatan Hati Seorang Istri yang ditulis oleh Asma Nadia (diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House) mulai merambat naik penjualannya pada cetakan kedua.

Apa yang telah dan terus dilakukan oleh mereka sejak ditengarai bahwa karyanya fenomenal? Ayat-Ayat Cinta yang awalnya menjadi cerita bersambung di harian Republika itu memukau para pembaca wanita dengan latar yang nyata. Kisah yang mengharu-biru itu berlanjut dengan upaya pengarangnya membuat perjalanan napak tilas ke Kairo, Mesir, untuk melihat langsung tempat kisah novel itu “terjadi”. Tantu tak akan bertemu dengan tokoh-tokoh fiktifnya, namun aroma suasana novel itu dapat “dicium” dari dekat. Bahkan sekarang, novel itu dibuat film.

Karya Moamar Emka tentu fenomenal karena mengungkap dunia malam yang selama ini sembunyi di balik gemerlap Jakarta. Sang pengarang tak hanya menceritakan kisah-kisah dari orang lain, tetapi melakukan survei dan mengalaminya. Perilaku manusia kosmopolitan dalam hiburan seksuak dibongkar blak-blakan dengan deskripsi yang mengalir melalui sudut pandang pengalaman, tentu luar biasa. Siapa yang tak ingin membacanya?

Andrea Hirata mungkin seorang pengarang ajaib. Laskar Pelangi awalnya sebuah naskah yang hendak dipersembahkan kepada gurunya waktu sekolah dasar, Ibu Muslimah. Seorang kawannya mengirim diam-diam naskah itu ke Bentang Pustaka. Demikianlah, akhirnya novel yang merupakan memoar pengarangnya itu terbit, beredar, dan laris. Kisah persahabatan dan petualangan sepuluh atau sebelas murid SD Muhamadiyah di Belitong itu telah menjadi inspirasi ribuan orang di Nusantara. Sebuah pengalaman yang menggugah, mengubah pikiran, dan membuat kesadaran tentang dunia pendidikan sebagai hal paling penting dalam kehidupan. Berkat dampak positifnya yang meluas, Mira Lesmana dan Riri Riza hendak mengangkatnya menjadi sebuah film.

Ayu Utami menjadi pemicu lahirnya karya-karya (pengarang perempuan, terutama) yang mengungkap unsur seks secara terbuka. Novel Saman dinobatkan sebagai pemenang pertama dalam lomba novel Dewan Kesenian Jakarta 1997, dianggap fenomenal karena membuka tabu, selain memang memiliki gaya bahasa yang memesona. Tahun 2008, Saman akan terbit dalam bahasa Prancis.

Asma Nadia seorang penulis yang dikenal “keras” dalam garis visi dan misi Lingkar Pena Publishing House, bahwa (menulis) buku adalah media dakwah. Karya-karyanya yang humanis, moralis, dan segar, dirindukan oleh kaum perempuan muslimah sebagai semacam panutan. Catatan Hati Seorang Istri mengungkap hal-hal yang terjadi di sekitar perasaan seorang wanita, diangkat dari pelbagai pengalaman berbincang dengan kaumnya, juga dengan para suami yang disadap pendapatnya. Penyampaian yang halus dan bersifat personal serasa mewakili sebagian besar perasaan pembaca.

Andrea Hirata telah menyerahkan seluruh promosi dan kegiatan jumpa pengarang kepada Renjana, sebuah event organizer yang ditangani oleh Dhipie dengan dinamis. Tampilnya Andrea dan Ibu Muslimah dalam acara Kick Andi (Metro TV) membuat novel Laskar Pelangi terjual 23 ribu copy hanya dalam bulan Oktober. Novel Edensor (bagian ketiga dari tetraloginya), sebelum menjadi buku, telah disosialisasikan oleh Andrea sejak dari Bandung sampai Denpasar dalam diskusi yang intens.

Asma Nadia dengan Forum Lingkar Pena (FLP) yang beranggota aktif lebih dari 5000 orang, bahkan memiliki cabang di pelbagai negara,  dapat memastikan penjualan setiap bukunya di atas 3000 copy. Mengapa? Para penggemar fanatik yang juga menjadi anggota FLP, langsung menyerap pada kesempatan pertama.

Itu contoh kecil saja bagaimana seorang pengarang memperlakukan karyanya, memelihara hubungan dengan pembacanya, dan terus-menerus mengembangkan jaringan. Dengan cara itu, karya yang baik, tidak akan sia-sia untuk terbit. Harapan pengarang, sang penerbit juga tidak tinggal diam. Bagaimana Gramedia Pustaka Utama mendukung M. Fadjroel Rachman untuk meluncurkan dan mediskusikan novel Bulan Jingga dalam Kepala ke tiga kota (Bandung, Jakarta, Makassar) seharusnya sudah menjadi kewajiban penerbit. Bagaimana penerbit Hikmah (Mizan Group) membiayai riset novel Rahasia Meede karya E.S. Ito juga patut ditiru oleh penerbit lain. Dukungan itu akan memberikan gairah bagi pengarang untuk lebih serius menulis karyanya bagi pembaca (dan penerbit).

Bukankah kelarisan buku menjadi target penerbit? Nama nama para pesohor akan sangat memikat para pembeli buku, tentu. Tetapi pembeli buku yang juga pembaca, akan selektif memilih bacaan. Bahkan, kadang-kadang, sebelum membeli buku, mereka akan mencari resensi atau book review yang ditulis oleh pembaca sebelumnya (yang umumnya seorang penilai yang baik). Melalui koran edisi Minggu atau blog internet, dengan mudah kita temukan kesan para pembaca buku.

Memang, buku yang baik dan buku yang laris sering berada pada “takdir”nya masing-masing. Bagaimana seorang pengarang mempertemukan kedua nasib baik itu menjadi satu, sungguh tak mudah, kecuali saling terbuka dengan penerbit untuk melakukan strategi sejak awal. Dari contoh-contoh nyata di atas, mudah-mudahan dapat dipetik pelajaran untuk mengikuti dan memperkaya jejak mereka.

Bagaimana JK Rowlings dan Dan Brown dapat mempersembahkan “adikarya” yang mendunia? Bagaimana karya-karya Shakespeare masih dibaca orang hingga sekarang? Bagaimana buku-buku Kahlil Gibran menjadi koleksi yang abadi? Bagaimana City of Joy atau Gone with The Wind begitu memukau? Mari belajar bersama-sama. Karena saya juga seorang pengarang, saya yang pertama berjanji akan belajar dari orang-orang sukses itu. Mula-mula, menulis yang baik.

(Kurnia Effendi, untuk Ruang Baca)