Wednesday, January 02, 2008

Cordially Yours

Persembahan untuk Hari Ibu

Untuk memperingati Hari Ibu banyak cara bisa dilakukan. Secara personal, seorang ibu memang memiliki peran amat penting bagi semua anak. Meskipun ada beberapa ibu, dalam kasus-kasus tertentu lebih kejam dari yang kita bayangkan, namun itu umumnya terjadi karena sebab-sebab ekstrem yang menimpa kondisi lahir dan batinnya sebagai manusia.

Komunitas Sastra Indonesia (KSI), memperingati Hari Ibu dengan pembacaan puisi tentang ibu di RRI, Rabu 19 Desember 2007 pada pukul 10 pagi. Disiarkan langsung melalui radio, merupakan kerjasama antara KSI dengan Radio Republik Indonesia. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari acara ”Malam Patriotisme” sebulan yang lalu dalam rangka memperingati Hari Pahlawan. Selanjutnya, KSI diserahi waktu dua jam, sekali dalam sebulan, untuk mengelola acara sastra secara live di RRI, atas prakarsa Parni Hadi (Direktur RRI) dan Wowok Hesti Prabowo (Pendiri KSI).

Masih terkait Hari Ibu tahun ini, Pusat Kesenian Jakarta dan sejumlah perempuan perupa menyelenggarakan pameran lukisan dan patung dengan tema “CordiallyYours”. Pameran yang dipersembahkan oleh kaum perempuan untuk Hari Ibu itu berlangsung sejak 11 Desember dan berakhir 22 Desember 2007 yang baru lalu. Sembilan perupa yang berkiprah itu adalah Ade Artie, Bibiana, Deusa Bluemke, Ida Ahmad, Indah Arsyad, Inge Rijanto, Jeanette Biljmer, Ria S. Holloway, dan Wahyuni.

Kolaborasi yang ditangani oleh Mrs. Josephine Komara dari House of Obin ini, seperti telah sepakat sejak awal, menyajikan obyek tubuh telanjang. Gambar model atau figur perempuan yang kebanyakan dilukis oleh perupa laki-laki, kini memenuhi dinding ruang pamer Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki sebagai hasil goresan tangan perempuan. Sayang tak sempat bertemu dengan salah satu pelukisnya, untuk mengetahui apakah proses penggambaran figur itu juga melalui model hidup?

Beberapa di antara mereka, Ria Saptarini Holloway, Wahyuni, dan Deusa Bluemke, pernah belajar melukis pada Teguh Ostenrik. Tampak pula karya-karya yang dipamerkan itu merupakan “sambungan” dari pameran bertema “The Simply Bodies” bulan Juni 2007 yang lalu di Merchantile Athletic Club. 

Potensi dan harapan besar pada mereka perlu dieksplorasi lebih dalam lagi agar gambar tampil dengan pembaruan gaya. Umumnya mereka mengabaikan bentuk anatomi, meskipun pemiuhan dan goresan minimalis layak menjadi kekuatan pada lukisan model seperti ini. Mungkin kita dapat membandingkan dengan review terhadap karya-karya maestro Mochtar Apin di satu sisi dan Antonio Blanco di sisi lain. Namun tentu saja, sebelum tiba pada kesederhanaan imaji dengan nuansa warna yang meneguhkan kedalaman figur, seorang pelukis harus menguasai citra tubuh, sebagaimana Ipe Ma’aruf yang sudah “khatam” soal itu.

Patung-patung yang dipamerkan pada Cordially Yours rata-rata berukuran mungil. Inge Rijanto yang pernah mendapatkan pengarahan dari Dolorosa Sinaga tidak serta-merta mengikuti pembimbingnya untuk menciptakan patung-patung besar yang lebih bersifat elemen estetik. Skala yang ditawarkan cukup memadai untuk pengisi sudut ruang atau almari kaca.

Terlepas dari kualitas yang belum menonjol, sembilan perempuan perupa ini telah berani mengambil alih citarasa lelaki dalam menampilkan sosok perempuan telanjang. Kejujuran, atau keterbukaan hati, barangkali itu kata yang paling tepat untuk memberikan makna pada obyek yang dipilih.

(Kurnia Effendi) 

 

0 Comments:

Post a Comment

<< Home