Wednesday, February 20, 2008

Lima Jam Bersama Shiho Sawai

Ketika berada di Yogya, tanggal 21 Januari 2008 yang lalu, saya membuat janji bertemu dengan Shiho Sawai. Gadis Jepang nan cantik ini sedang melakukan penelitian sastra di Indonesia. Untuk memudahkan pekerjaannya itu, mahasiswa tingkat doktoral (S3) di Universitas Tokyo ini, mendaftar sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Gajah Mada. Shiho menyambut ajakan saya, kami janji bertemu Selasa pagi, 22 Januari 2008.

Cafe Exelso, Galeria, Yogya (10:10)

Saya meluncur dari hotel ke Galeria di Jalan Solo. Itu tempat paling mudah dijangkau, apalagi Shiho tinggal di belakang kompleks pertokoan itu. I’m coming in five minutes,” begitu janjinya.

Sengaja memilih kedai kopi di sudut yang tidak berisik, karena kami akan berbincang banyak hal tentang kegiatan Shiho selama di Indonesia. Demikianlah, saya pesan cappuccino hangat seraya menunggu kedatangannya.

Tak meleset dari ucapannya, Shiho tiba dengan... setelan baju muslim hijau yang dipadu-padan dengan jins. Mata sipitnya menghilang ketika tersenyum. Saya persilakan dia untuk pesan minum, lalu percakapan mulai mengalir. Saya takut mengganggu waktu kuliahnya.

”Oh, saya tidak kuliah setiap hari. Hanya ikut satu mata kuliah dari Pak Faruk HT,” jawabnya menenteramkan saya.

”Jadi sebenarnya di UGM untuk mengambil doktoral atau bagaimana?”

”Saya tetap menjadi mahasiswa S3 di Jepang. Saya menerima beasiswa untuk penelitian sastra di Indonesia. Tetapi untuk mendapatkan banyak pengetahuan harus bergaul dengan banyak orang di sini, salah satu caranya, saya harus mendaftar sebagai mahasiswa di UGM. Kedua pihak universitas sangat membantu proses itu.”

”Berapa lama di Indonesia? Tampaknya sudah mahir bahasa Indonesia.”

”Beasiswa saya hanya untuk 2 tahun, tetapi saya sudah belajar bahasa Indonesia sudah sepuluh tahun.”

”Oh, pantesan. By the way, tinggal sebentar lagi di sini.”

Ya, Agustus tahun ini saya harus sudah kembali ke Jepang,” ujarnya. Nada suaranya mengisyaratkan rasa berat meninggalkan Indonesia.

Percakapan ringan terus berlangsung sembari minum kopi. Mendadak saya ingat janjinya mau menunjukkan tempat lotek yang enak. Kami sepakat meninggalkan Galeria.

Saya pikir akan jauh tempat makan siang itu, rupanya hanya sebentar ditempuh dengan jalan kaki. Lewat belakang pertokoan, ada kompleks perumahan, salah satu rumah besar di situ adalah tempat kos Shiho.

”Sama siapa saja tinggal di situ?”

”Banyak mahasiswa. Tapi mereka suka heran melihat saya larut malam masih bekerja dan tidak bergegas di pagi hari,” Shiho tertawa.

”Secara pergaulan, bagaimana orang-orang Yogya?”

”Mereka sangat baik dan ramah. Kita kadang-kadang kumpul tanpa harus minum-minum seperti di Jepang. Enak sekali suasananya, saya lebih suka.”

Sampailah kami di sebuah kedai lotek yang menjadi makanan favorit Shiho.

Kedai Lotek Bu Bagyo, Yogya (12:15)

Kami mendapat tempat duduk di serambi. Pemandangan lebih bervariasi dan semilir angin langsung terasa sejuk. Hari cerah, matahari bersinar tanpa penghalang.

            ”Saya pesan lotek juga, pakai lontong,” kata saya. Shiho yang masuk ke dalam untuk memesan. Sambil menunggu lotek, kami melanjutkan percakapan.

”Jadi sudah sejauh mana hasil penelitiannya?”

Shiho menggeleng. ”Ternyata tidak mudah. Saya butuh waktu lama untuk adaptasi dan mencari narasumber. Setelah mendapatkan, saya himpun dulu. Saya belum mulai menulisnya.”

”Selama ini banyak ikut kegiatan dan bahkan jadi pembicara, termasuk Kongres KSI di Kudus. Tentu banyak bahan.”

”Ya, memang. Itu sangat membantu. Masalahnya, untuk sekaligus mendapatkan banyak data, agak sulit. Saya harus berhari-hari terlibat dengan sebuah komunitas. Untungnya masyarakat di Indonesia mudah diajak bicara.”

Benar juga, lotek itu cukup nikmat di lidah. Pantas selalu ramai. Dan harganya pasti terjangkau untuk kalangan mahasiswa.

”Apakah ini makanan favoritmu?”

”Ya. Di Yogya susah cari menu sayuran segar. Gudeg kan tidak segar dan rasanya manis. Saya tidak suka manis. Saya lebih memilih masakan Padang untuk alternatif.”

Dalam satu jam kami telah selesaikan urusan makan siang. Shiho mentraktir saya. Selanjutnya saya menawarkan tempat lain untuk ”kongkow”.

Sudah pernah ke MP Book Point di Jl. Kaliurang?”

”Belum pernah. Ada apa di sana?”

Ringkas cerita, kami sepakat untuk naik taksi ke MP Book Point. Sebuah toko buku yang menyediakan kafe dan bebas berinternet. Hanya lima belas ribu ongkosnya. Di sana sudah menunggu cerpenis Puthut EA dan Dodok Hartoko dari Penerbit Buku Baik.

MP Book Point, Jl. Kaliurang Km 5,3, Yogya (13:40)

Di MP Book Point ada kafé bernama Rumah Kopi. Kami bergabung dengan Puthut EA di kursi outdoor. Sebentar-sebentar harus bergeser sesuai dengan bayang-bayang paying, agar tak tersengat terik matahari.

            Kami berdua mendapat souvenir buku dari Puthut EA, tulisannya tentang pengalaman di Aceh dan Nias pasca tsunami, berjudul Lewat Batas Luka.

            “Menurut Shiho, apakah penerbitan buku di Indonesia cukup bergairah?”

“Betul. Dulu menurut info, hanya 2000 judul setahun, sekarang sudah meningkat menjadi 6000 judul setahun. Tetapi masih kalah jauh dengan Jepang atau negara Amerika yang sudah rata-rata 15.000 judul per tahun.”

”Jika dibandingkan dengan Malaysia, bagaimana kulaitas sastra kami?”

Indonesia lebih baik. Lebih kreatif. Selain itu, saya kagum dengan seniman Indonesia yang low profile.” Lalu Shiho menceritakan pengalaman bertemu dengan banyak sastrawan dalam kongres Komunitas Sastra Indonesia di Kudus, rata-rata bersahaja. Kadang-kadang Shiho tidak menyangka, yang dihadapinya ternyata pengarang besar, seperti Habiburrahman El-Shirazy, misalnya. Sayang sekali waktunya tidak memadai untuk berbicara lebih mendalam dengan mereka.”

Saya menulis beberapa buku, mana yang Shiho belum punya?”

“Biar saya beli sendiri saja. Apa saja judulnya?”

Tak lama kemudian datang Tia Lesmana dan Gangsar Sukrisno. Keduanya almunus Universitas Padjadjaran. Tia pernah menjadi penulis puisi di masa lalu dan kini menjadi pengusaha; sedangkan Gangsar selain menjadi CEO penerbit Bentang Pustaka juga mengelola toko buku MP Book Point.

”Nanti akan bekerja di mana setelah selesai S3?”

”Tak ada pilihan lain, tentu menjadi dosen Sastra Indonesia. Tapi, persaingan cukup ketat karena banyak ahlinya.”

”Mengajar di sini saja. UGM atau UI.”

Shiho hanya tertawa. Di Jepang saja sangat kompetitif, bagaimana di Indonesia?

Pembicaraan berlangsung meluas ke dinamika penerbitan buku di Yogya dan kegiatan para penulis. Kami kembali memesan kopi, saya memilih yang dingin, Shiho mencoba kopi tubruk Vietnam. Tak sadar, waktu terus bergulir sampai matahari condong. Saya harus ke bandara Adisucipto untuk terbang kembali ke Jakarta senja itu.

Tia Lesmana mengantar saya ke bandara. Shiho Sawai, yang berminat pada sastra Indonesia berkat membaca Pramoedya Ananta Toer, turut serta hingga ke Galeria. Kami berpisah di sana. Berharap dapat berjumpa lagi 16 Februari 2008, dalam acara ulang tahun ketiga Milis Apresiasi Sastra di Japan Foundation Jakarta.

(Kurnia Effendi)