Wednesday, February 06, 2008

Lokomotif Tua

Menjelang senja, 21 Januari yang lalu, mobil kami memasuki kota Ambarawa. Di Semarang sengaja kami tak mampir makan siang, walau sudah terlambat, karena tak ingin kemalaman sampai di Yogya. Namun karena di jalan sempat membicarakan perihal museum kereta api, kami jadi teringat sesuatu.

”Kalau mau ke museum kereta api, belok kiri,” ujar Sekar saat tiba di pertigaan yang ditandai sebuah sculpture kendaraan perang.

Maka, seperti refleks, berbeloklah mobil ke kiri. Tak sampai satu kilometer sudah menjumpai semacam prasasti. Sebuah lokomotif tua berdiri gagah di sudut kanan jalan, di tikungan menuju museum, dengan petunjuk 500 meter.

Akhirnya kami memasuki tempat wisata yang sungguh sunyi, kecuali oleh petugas yang menunjukkan muka bosan (mungkin ia telah menjaga museum itu bertahun-tahun dan sama sekali tidak memahami makna museum). Beberapa ekor burung yang hinggap di kawat telepon berpindah tempat. Senyum penjual kerajinan yang kurang bersemangat. Pedagang makanan yang sudah tak berharap akan laris. Tukang jagung bakar yang sedang menyelesaikan pesanan satu-dua.

Tentu saja loket tiket itu kosong. Penjaganya ada di luar berbincang dengan petugas yang lain untuk membunuh waktu. Membayangkan jam demi jam lewat sejak pagi hingga petang, dengan pemandangan yang itu-itu saja, ditemani 22 lokomotif tua, apa lagi yang hendak menjadi fantasi mereka?

”Berapa tarif masuknya, pak?” Bagaimanapun kami tak hendak berwisata gratis. Tertera di papan loket, Rp 3000,- per orang. Cukup murah sebenarnya. Mengapa sepi? Kami tahu jawabnya. Pertama, ini hari kerja, bukan Sabtu atau Minggu. Kedua, bukan musim akhir ulangan umum sekolah. Alasan terakhir, mungkin, lantaran tidak ada aktivitas yang bergerak di museum itu. Tiada yang tampak atraktif.

Benar-benar seperti sebuah perpustakaan, kita hanya akan membaca semua yang terpajang di sana. Tetapi ini pasti sangat ”cocok” buat Dessy Sekar Astina, sebagai ketua Forum Indonesia Membaca. Museum ini akan menjadi ”bahan bacaan” menarik baginya.

Kami berpisah arah. Masing-masing memiliki ketertarikan awal yang berbeda. Kamera segera merekam obyek-obyek ”penting”. Seperti biasa, saya selalu terpukau pada hal-hal yang telah jauh berlalu. Seraya membayangkan saat benda-benda itu dahulu kala bekerja sebagai bagian hidup manusia sehari-hari.

Sesungguhnya tak terlalu jauh lewat. Baru sekitar satu abad. Lokomotif tertua mulai beroperasi tahun 1891 dan yang termuda 1922. Kini mereka membisu di sebuah stasiun. Sungguh-sungguh stasiun mulanya, kini hanya melayani perjalanan wisata satu jurusan: Ambarawa-Tuntang. Ada dua jenis kereta api untuk perjalanan itu. Serangkaian lori kecil, biasanya digunakan untuk reguler, dengan jadwal tetap pada hari-hari libur. Serangkaian gerbong besar ditawarkan untuk penumpang yang ingin lebih nyaman. Sebenarnya setiap kepala dikenakan tarip hanya Rp. 10.000,- namun dengan kuota 15 orang paling sedikit. Harga ini tentu dihitung berdasarkan bahan bakar yang dibutuhkan untuk menggeret berton-ton beban.

Memasuki ruang kepala stasiun, saya menemukan meja kerja dengan topi dan alat komando yang memerintah masinis menggerakkan lokomotif meninggalkan stasiun. Ada macam-macam peluit tersimpan. Entah sudah berapa ribu jeritan yang dilahirkan dari mulut pipihnya. Jadwal yang tertempel di dinding dan sebuah miniatur stasiun dengan jalur-jalur rel yang memorable. Setidaknya, masa kecil saya banyak dihiasi perjalanan kereta api, dari Yogya ke Prupuk atau sebaliknya. Bahkan semasa kuliah amat sering menggunakan kereta api Parahyangan untuk ulang-alik Bandung-Jakarta.

Saya menghampiri loket yang tak berpenghuni. Mengingatkan pada film-film horor, tentang sebuah kota yang ditinggalkan, dan stasiun adalah salah satu bangunan yang menyeramkan. Sebuah mesin pembolong tiket sebagai penanda keabsahan, teronggok di atas meja. Terbayang dulu ada tangan yang selalu sigap menggerakkannya. Foto-foto yang tertempel di dinding, di antaranya merupakan suasana stasiun semasa aktif dulu. Hampir sama dengan nasib kuda, kereta api di Indonesia kalah bersaing dengan travel bus dan pesawat terbang. Padahal di kota-kota besar dunia, termasuk Tokyo, kereta api masih menjadi primadona transportasi.

”Tolong fotoin aku, mau naik lokomotif,” Sekar menyerahkan kamera digital. Lalu ia naik ke salah satu kepala sepur. Sedikit bergaya. Dan saya memotretnya.

Pada setiap lokomotif, yang seluruh tubuhnya berwarna hitam, ada spesifikasi info tertanam di sisinya. Tercantum tujuh produsen yang mengirimi kita lokomotif perkasa dengan tenaga kuda berkisar antara 150 sampai dengan 1200. Tersebutlah nama pabrik Hartmann Chemnitz, Hensel Shassel, Bayer Peacock, Werk Spoor Amsterdam, Hanonag Hannover, Shachisotke MF Chemnits, dan Wintherthur Scheweis.

Sejarah memang sebuah jejak, panjang maupun pendek. Dan siapa pun yang pernah menjadi masinis bagai dua puluh dua jenis lokomotif berbahan bakar kayu atau residu itu tentu merasa pernah menghiasi lembaran perjalanan rombongan besar manusia dari satu tempat ke tempat lain. Kereta api adalah sebuah romantisme tersendiri!

Ketika membaca kisah Hercule Poirot dalam episode Pembunuhan Di Orient Ekspres karya Agatha Christy, ada paduan kemewahan, keagungan, kengerian, dan kecemasan. Teka-teki sepanjang lebih dari dua ratus halaman yang memenjara mata dan perhatian kita. Ada film lawas berjudul Cassandra Crossing dengan pemeran utama Richard Harris, yang membawa ketegangan penonton dari awal melalui kereta api cepat antarnegara. Karena ada virus yang penularannya melalui udara dan tak tertanggulangi, sebuah gerbong akan di lepaskan ke jembatan yang telah bertahun-tahun tak digunakan.

Ah, saya pun teringat riuhnya pedagang lontong tahu, telor asin, dan minuman yang berebut memasuki gerbong kereta api rakyat di stasiun Pekalongan. Kadang-kadang saya rindu situasi seperti itu, ingin merayakannya sesekali walaupun harus berkeringat dan mencium segala aroma.

Sekitar dua tahun yang lalu, komunitas milis Apresiasi Sastra pernah melakukan perjalanan dengan kereta api dan sepanjang jalan menyelenggarakan acara sastra dalam gerbong yang diborong. Di gerbong itu ada pembacaan puisi dan diskusi. Sastra ternyata bisa dinikmati di mana pun kita berada...

Pukul lima kami memutuskan untuk meninggalkan stasiun dan museum kereta api Ambarawa. Kami tinggalkan bangunan dengan susunan bata ekspose bertengara Willem I, anno 1873. Dua ekor anjing yang sedari tadi bercanda di teras peron menatap kepergian kami. Langit sebentar lagi bertukar warna. ***

(Kurnia Effendi untuk Parle)