Monday, May 12, 2008

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin

Harta KarunPaus Sasatra

Sudah berpuluh kali (atau beratus kali? Ah tentu belum sampai hitungan itu) saya masuk ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya no. 73 Jakarta Pusat. Sejak kapan? Tak ingat persis. Tapi tentu sebelum terpencil seperti saat ini. Sebelum jalan masuk ke halaman gedungnya tinggal serupa setapak yang kadang-kadang membuat orang tersesat. Seorang wartawan, mengaku bingung dan sempat mencari-cari PDS HB Jassin ketika hendak menghadiri acara diskusi. “Dulu belum ada pagar seng yang memanjang di sisi jalan masuk,” katanya.

Wah, itu tentu sangat dulu. Pembangunan Teater Studio atau Teater Kecil yang megah sudah usai sekitar dua-tiga tahun yang lalu, sementara bangunan gedung lainnya terhenti. Sebelumnya masih ada serentang waktu, ketika pemandangan di depan ruang baca itu berupa empang besar dengan air kehijauan…

Mari kita tilik, siapa pendiri dan penghimpun buku-buku (sastra) di dalamnya? Maka tersebutlah nama Hans Bague Jassin. Sosok yang dijuluki Paus Sastra (pertama kali oleh Gajus Siagian) kini sudah tiada lagi. Lahir di Gorontalo  31 Juli 1917 dan wafat di Jakarta 11 Maret 2000 karea stroke yang panjang.

Pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” memang berlaku bagi Jassin. Ayahnya seorang kerani yang kutubuku. Anak kedua dari enam bersaudara itu gemar membaca sejak SD, karena gurunya pandai menggelorakan minat baca pada murid-muridnya. Semasa menempuh pendidikan HBS (setingkat SMP) di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara, Jassin sudah mulai menulis kritik sastra, bahkan dimuat di beberapa majalah.

Semuda itu Jassin telah menjadi seorang cendekia. Bakatnya memukau Sutan Takdir Alisjahbana, sehingga ditawarkan kepadanya pekerjaan di penerbitan Belanda, tahun 1940. Salah seorang gurunya, Armijn Pane, telah membuatnya pintar dan benar dalam menulis resensi buku. Karier pun terbuka baginya. Pelbagai majalah sastra di zaman itu, mendapat sentuhan tangan dan pikirannya sebagai redaktur; antara lain Pandji Poestaka, Pantja Radja, Peodjangga Baroe, Indonesia Merdeka, Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra, Medan Ilmu Pengetahuan, sampai yang terakhir: Horison.

Jassin pernah memiliki posisi unik di Universitas Indonesia. Dalam satu hari yang sama, pada jam yang berbeda, ia bisa duduk sebagai mahasiswa (untuk mata kuliah Jawa Kuno) dan giliran berada di depan kelas sebagai dosen mata kuliah Sastra Modern. Demikianlah, ia memang seorang doktor sastra. Gelar honoris causa diterima 18 tahun setelah ia menjadi sarjana, dari Universitas Indonesia.

Ketekunannya membaca, meneliti, dan menulis kritik sastra, membuat pendapatnya ditunggu-tunggu banyak sastrawan di masa itu. Para penulis karya sastra terbagi menjadi “kalangan dalam” (bagi yang telah disebutnya sebagai  pujangga) dan “kalangan luar” (bagi pengarang yang masih belum dibicarakan olehnya). Penyair Chairil Anwar “dibaptis” oleh Jassin sebagai pelopor angkatan 45. Sementara Motinggo Boesje dan Marga T. yang sudah produktif menghasilkan novel harus bersabar sampai dibahas oleh pena bertuah H.B. Jassin.

Ketika saya (baru-baru ini) memberikan semacam kuliah umum tentang proses kreatif kepada 120 mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten di PDS HB Jassin, sempat saya dengar awal kisah pendirian pusat dokumentasi itu, dari Endo Senggono. Saat ini Endo adalah pejabat yang ditugasi untuk mengelola dan merawat PDS HB Jassin, bersama sejumlah orang termasuk Titis Basino.

Menurut tuan rumah, cikal-bakal perpustakaan itu dari koleksi pribadi Pak Jassin. Ketika ia menjadi kepala bidang perpustakaan pada Lembaga Bahasa (sampai kini masih berkantor di Jl. Daksinapati Rawamangun, dengan nama Pusat Bahasa), Jassin mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah Jakarta untuk mendirikan pusat dokumentasi sastra. Tempat itu telah “menyelamatkan” koleksi besar buku-buku, kliping, karya, dan catatan pribadi milik Pak Jassin.

Dua peristiwa muram yang membuat HB Jassin tergelincir adalah: Pertama, ketika menandatangani Manifes Keboedajaan, sehingga dianggap anti-Soekarno, dan membuatnya lengser dari Lembaga Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sekaligus terlepas dari jabatan dosen di UI. Kedua, ketika “Langit Makin Mendung” karya Ki Pandji Kusmin yang dianggap menghina agama dimuat dalam majalah sastra Horison asuhannya (1971). Pengadilan meminta dia membuka jati diri pengarangnya namun ditolak, sehingga Jassin sempat singgah sebagai narapidana selama 1 tahun.

Sepanjang hidupnya, Jassin memiliki 3 istri. Bersama Tientje van Buren berakhir dengan perceraian, bersama Arsiti dianugerahi dua anak dan meninggal tahun 1962, bersama Yuliko Willem yang terpaut usia 26 tahun juga memberinya dua anak. Keempat anaknya itu: Hannibal, Matsinah, Yulius Firdaus, dan Helena Magdalena.

Ada sekitar 30 ribu buku yang masih tersimpan di PDS HB Jassin, berikut kliping yang dikumpulkan oleh “Wali Penjaga Sastra Indonesia” (sebutan yang diberikan A.A. Teeuw, ahli sastra). Pertanyaan di benak saya sama dengan yang terlontar dari mahasiswa Untirta  sore itu: “Bagaimana cara merawat dokumentasi itu? Dan apakah masih cukup representatif dikunjungi, sementara melalui website atau googling kita dapat mencari referensi sastra dengan lebih mudah dan cepat?”

Jawaban Endo Senggono sangat masuk akal. “Untuk karya sastra Indonesia modern memang mudah dicari melalui internet, tetapi karya-karya sezaman Balai Poestaka, di sinilah tempatnya. Kalau soal merawat memang menjadi problem kita bersama. Masih dengan cara tradisional, dengan semprotan anti hama dan kutu yang suka memakan kertas. Ruangannya harus dalam keadaan sejuk oleh AC.”

Barangkali, kehadiran Hans Bague Jassin menjadi berkah bagi para sastrawan generasi berikutnya. Ruang baca yang juga kerap menjadi arena diskusi dan peluncuran buku di lantai dua sanggup menampung sekitar 150 orang. Sudah sejak lama, dindingnya memasang sejumlah potret para sastrawan, mulai dari Chairil Anwar sampai dengan Arswendo Atmowiloto. Sekitar lima atau enam tahun silam, karya keramik Motinggo Boesje yang mengekalkan larik-larik puisi beserta foto penulisnya menjadi aksesoris koleksi PDS HB Jassin. Tertera puisi Jose Rizal Manua sampai dengan Medy Loekito.

Tampak tenang suasana di ruang baca itu karena pengunjung perpustakaan sastra umumnya orang-orang serius yang tidak menggunakan waktunya untuk bercanda. Koleksi PDS HB Jassin tidak boleh dibawa pulang oleh peminjamnya, hanya diperkenankan membaca di tempat atau membawa fotokopinya saja. Cara pengelompokan dokumen berdasarkan nama pengarang. Dalam map arsip pengarang, misalnya Sapardi Djoko Damono, akan terhimpun tulisannya, kritik tentangnya, juga resensi buku-bukunya. Menurut Endo, PDS HB Jassin tidak melakukan seleksi, melainkan semata mendokumentasi.

Saya merasatakjubketika menemukan fakta bahwa tulisan saya di masa lalu masih tersimpan dalam dokumen asli di majalah Anita Cemerlang. Itu tahun 70-an dan 80-an! Majalah itu sudah almarhumah, tetapi salah seorang penulis setianya, saya, masih diberi umur dan masih menulis di media cetak generasi berikutnya sampai kini. Jadi, bagaimanapun, saya terikat secara emosional dengan perpustakaan yang masih menyimpan harta karun Paus Sastra HB Jassin itu.

(Kurnia Effendi)