Friday, May 09, 2008

Pameran Critical Point

Ahadiat Joedawinata Membentuk KeramikSelenturKertas.

Tak pernah menyangka sebelumnya, sekitar 7 tahunan yang lalu, Ahadiat Joedawinata menjadi seorang seniman keramik yang matang. Di sepanjang karier sebelumnya, ia adalah seorang desainer interior. Dosen yang karib disapa dengan Pak Ai’ ini memiliki kontribusi besar di kampus tempat ia pernah belajar dan kemudian mengajar, Jurusan Desain Interior FSRD ITB. Demikianlah kenyatannya, kini karya-karyanya (sama-sama tiga dimensi dengan karya interior yang sampai kini digelutinya), telah menjadi obyek pengamatan yang unik, lebih dari sekadar apresiatif.   

Sejak 12 sampai dengan 24 Maret 2008 yang lalu, ia menggelar pameran di O House Galeri, Jl. Widya Chandra 39, Jakarta Selatan. Kurator Jim Supangkat memberikan ulasan panjang dalam katalog, terutama mengenai ambang batas (limit) yang hendak dicapai oleh sang seniman dalam berkarya.

Sebagai seorang desainer interior, Ahadiat sudah biasa mengolah ruang. Dalam medium tanah liat, melalui sifat kerapuhannya, dia juga menggarap ruang dalam dimensi yang lebih kecil. Namun secara filosofis bisa sama luasnya dengan alam semesta: ketika “ruang dalam” diumpamakan sebagai bagian dari hati manusia, sedang “ruang luar” adalah pemandangan wadag yang tampak di permukaan.

Karya-karya Ahadiat yang ditampilkan di O House Galeri telah melampaui sekadar prinsip menciptakan wadah (semacam mangkuk, tempayan, atau cawan) menjadi ekspresi seni di luar fungsi. Bentuk yang terwujud memiliki makna yang lebih dalam meskipun tetap bersandar pada sifat gerabah yang fragile. Nilai keretakan, bahkan oleh pemilik galeri, Selamat Teguh dan Bonny Limantoro, dianggap sebagai penjaga keindahan keramik. Keretakan sebagai unsur kelemahan tanah liat yang dibakar justru didekati dengan jarak yang minimal oleh Ahadiat, dan melahirkan hasil yang menakjubkan. Setelah itu barulah warna glazur menjadi perlambang spiritual yang diletakkan dalam komposisi serius.

Dalam hal ini, Ahadiat telah “memperlakukan” tanah liat sebagai “kertas” yang lentur dan dapat dibentuk menyerupai apa pun. Ia mengeksplorasi platisitas keramik sampai pada titik kritisnya. Untuk sampai kepada hasil yang kita lihat, membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan pengetahuan mendalam mengenai karakter keramik. Dan itu semua telah dimiliki oleh Ahadiat. Sebagai seorang desainer yang luwes menggunakan kedua tangannya (kanan dan kiri) untuk menggambar dan menulis, Ahadiat sudah memaksimalkan fungsi kreativitas dan eksakta sekaligus dalam kedua belah otaknya.

Ketipisan, tekstur, tonjolan-tonjolan mungil yang teratur, susunan temali yang membentuk dinding, retakan, susunan sambungan, dan lenturan yang luwes, menjadi ciri khas keramik karya Ahadiat. Ia seperti menemukan teknik yang bahkan jarang dilakukan oleh para pekeramik sebelumnya. Eksperimen yang mungkin awalnya tanpa beban itu tampak jadi ajaib. Pada beberapa karya, bahkan ia mencoba menggabungkan antara keramik dengan materi lain, seperti bambu, mika, kaca, dan logam.

Dunia seni rupa, yang seolah sudah kita cermati sampai ke berbagai variannya, ternyata masih memiliki banyak kemungkinan yang satu per satu terungkap. Termasuk pencarian batas yang dilakukan oleh Ahadiat

(Kurnia Effendi)