Friday, May 09, 2008

Diah Hadaning dan Tirta Baskara

(Catatan ulang tahun bagi Diha)

Perjalanan hidup seorang manusia terjadi karena pilihan demi pilihan. Untuk pernyataan ini, saya teringat novel Mimpi-Mimpi Einstein karya Alan Lightman yang diterjemahkan oleh Yusi Avianto Pareanom. Di sana ada bab ketika Einstein menceritakan tentang seorang ibu sedang menasihati anaknya yang dilanda asmara. Nasihat itu mungkin akan dituruti atau ditolak oleh sang anak. Salah satu pilihan akan melanjutkan sejarah kehidupan sang anak yang tentu berbeda dengan pilihan lainnya.

Demikian pula dengan Diah Hadaning yang berulang tahun ke-68 pada tanggal 4 Mei 2008. Usia yang tak ringkas untuk sejarah panjang seorang wanita yang sejak awal telah memilih sastra sebagai “jalan hidup”. Perempuan yang tetap menjalani kodratnya sebagai istri, ibu, dan nenek (karena telah memiliki beberapa cucu), tak pernah risau dengan hasil yang tak memadai secara finansial dari buku-buku puisinya.

Bila kita dengar penuturannya tentang motivasi yang menjadi obor perjalanannya, kita patut salut. Diah Hadaning ingin menjalankan mission of life lewat sastra. Ia ingin memiliki identitas yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Ia juga selalu ingin menjadi bagian dari penduduk Nusantara melalui kegiatan sastra. Akhirnya, kehadirannya di dunia yang tak mungkin terulang ini, dipergunakannya sebagai saksi zaman, bukan sekadar numpang lewat.

Penyair yang dipanggil akrab Mbak Diha oleh sejumlah sahabat, konon memiliki shio Naga, yang salah satu sifatnya adalah gemar berkumpul dengan banyak orang. Salah satu buktinya tentu saja komunitas yang menjadi tempatnya bergiat. Sebelum bersama kawan-kawan penyair Jabotabek (seperti Iwan Gunadi, Ahmadun Yosi Herfanda, Wowok Hesti Prabowo, Shobier Poer, Medy Loekito, Azwina Aziz Miraza, Wig SM, Slamet Rahardjo Rais, Ayid Suyitno) mendirikan Komunitas Sastra Indonesia tahun 1996, Diah Hadaning telah memiliki “Warung Sastra Diha”. Awalnya itu menjadi ruang sastra yang diasuhnya selama ia bekerja sebagai redaktur budaya di Harian Swadhesi (1987-1998). Ketika koran tersebut tutup bersamaan dengan tumbangnya Orde Baru, “Warung Sastra Diha” tetap eksis hingga hari ini.

Mungkin setiap penyair Jabotabek mengenal Diah Hadaning bukan sekadar penyair angkatan Piek Ardianto Soepriadi dan Rita Oetoro, melainkan juga seorang ibu yang turut membimbing keberangkatan mereka menjadi sastrawan. Selain bergaul dengan teman-teman yang mudah bertemu satu sama lain, Mbak Diha memiliki sahabat pena yang tersebar luas, mulai dari Takengon Banda Aceh sampai Wamena di Papua. Apa saja yang mereka bicarakan? Diah Hadaning mengaku masih menggunakan mesin ketik dalam berkomunikasi dengan para sahabatnya, selain bicara sastra juga hal-hal lain tentang kehidupan.

Kini Diah Hadaning telah memiliki sekitar 35 buah buku, 11 di antaranya merupakan antologi puisi tunggal, juga novel. Kumpulan puisi bersama para penyair Depok yang diterbitkan paling anyar adalah Gong Bolong (2008). Puisinya yang pertama dibaca oleh publik termuat di Harian Simfoni tahun 1973. Sejak itu ia rajin berkarya, mulai dari Yogyakarta, Semarang, sampai akhirnya menjelajah kota Jakarta dan kini menetap di Cimanggis, pinggiran Bogor. Penggemar warna hitam ini selalu tampak bersahaja dan peduli terhadap orang lain yang masih memerlukan pertolongan.

Bicara tentang penghargaan, pertama kali datang justru dari mancanegara. Manuskrip Surat dari Kota yang memuat 100 puisi mendapatkan Hadiah Gapena dari negeri jiran Malaysia (1980). Ia penasaran dan bertanya kepada panitia, mengapa ia berhasil menang dalam kompetisi antarnegara itu. Penjelasan juri antara lain demikian:  “Kesederhanaan bahasa dan isinya tentang perjuangan wanita merupakan kekuatan utama dibanding karya sastrawan lain.”

Empat belas tahun kemudian, puisi Diha tentang pelestarian hutan mendapatkan penghargaan dari Yayasan Ebony yang diketuai oleh Ibu Pertiwi Hasan. Pada tahun 2003, Lembaga Pusat Pengkajian Sastra dan Budaya Jawa, di Solo, memberinya anugerah sebagai penyair yang melestarikan budaya Jawa. Memang bila kita cermati, banyak puisi Diha yang berakar pada budaya Jawa.

Sebagai saksi zaman, tentu saja pengalamannya bersastra di bawah pemerintahan lima Presiden Republik Indonesia, tak akan lepas dari situasi politik yang memengaruhinya. Dalam pengakuannya, Diah Hadaning punya 3 buku manuskrip antologi puisi bertema reformasi, masing-masing berisi 50 pucuk sajak. Cukup luas tema yang digarap dalam puisi Diha, karena ia juga bercerita tentang perjalanan, perjuangan wanita, lingkungan hidup, dan kisah anak manusia dari kawasan manapun.

Sepanjang yang saya kenal, Diah Hadaning tak pernah neko-neko. Tetapi ada satu obsesinya yang belum terlaksana dan membuat saya terperangah sekaligus salut. “Dik, seandainya Tuhan memberi saya umur dan diparingi kekuatan, saya ingin memiliki padepokan kecil di pinggiran Jakarta atau Bogor yang dapat mewadahi kegiatan sastra dan budaya. Juga untuk menampung para seniman yang masih terlantar di jalanan.”

Alangkah mulianya cita-cita itu, namun tentu tak semudah membalikkan tangan bagi penyair sederhana seperti Diah Hadaning.  Ia melanjutkan ucapannya di tengah ketermenungan saya. “Saya menawarkan pertunjukan 1 jam, harmonisasi antara puisi, teater, gending Jawa, tari, dan tembang, yang mengangkat kisah Kesaksian Anak Perempuan Ki Suto Kluthuk. Nah, siapa yang berani membayarnya 1 miliar rupiah?”

Mudah-mudahan ada yang membaca “jejak” ini dan mudah-mudahan ada pengusaha dermawan yang lantas mengulurkan tangan untuk merealisasikan obsesi Mbak Diha. Toh hasilnya akan digunakan mambangun tempat berkesenian. Dengan demikian, motivasi menyampaikan misi hidup melalui sastra bukan hanya tercapai, melainkan memanjang entah sampai kapan.

Diah Hadaning saya nilai sosok yang kuat lahir dan batin. Tak hanya tulisannya yang mengembara ke mana-mana sebagi tutur, melainkan fisiknya juga senang berkelana baik sebagai undangan atau keinginan sendiri. Apa resepnya agar tetap bugar, Mbak?

Minum tirta-baskara, Dik.” Ia membuka rahasia. Ketika saya mengartikan tirta sebagai air dan baskara sebagai matahari, Diha membenarkan.Saya menyimpan air dalam botol warna hijau yang dijemur seharian, kemudian diembunkan sepanjang malam di luar rumah. Nah, pada pagi hari berikutnya, kita minum. Itu untuk vitalitas. Jika Adik kurang darah atau darah rendah, gunakan botol warna merah.”

Sesederhana itu? Sebenarnya demikian yang dilakoni Mbak Diha sejak usia 35 tahun. Resepnya diperoleh dari koran Buana Minggu  melalui tulisan seorang lelaki yang sudah berusia 108 tahun kala itu. Mari kita coba dan melakukannya dengan disiplin.

Pantaslah saya suka kaget jika menelepon Mbak Diha. Kadang di Yogya, di Solo, di mana-mana. Dua minggu lalu, Diha diundang oleh kelompok seniman Mayong Jepara untuk turut melakukan ritual Ruwat Ari-Ari Kartini. Bertepatan dengan malam 21 April 2008, tanggal kelahiran Raden Ajeng Kartini, mereka menyenandungkan tembang, membacakan puisi, melafazkan wirid, merenung dan berdoa; menggunakan bahasa Jawa.

Sungguh Dik, saya merasa terlahir kembali. Lepas dari beban, lega dan punya gairah hidup yang baru,” begitu Diha mengaku setelah berziarah di makam Kartini. Itulah mungkin yang disebut pencerahan. Dan pada ulang tahun ke-68 ini, teman-teman penyair se-Nusantara menghadiahi antologi puisi bersama bertajuk Kenduri Puisi. Selamat ulang tahun, ibu penyair!

(Kurnia Effendi)

 

***