Monday, July 14, 2008

Dari Pesta Buku Jakarta 2008

Jak-Book!” ujar Foke

Tahun ini, menyambut liburan sekolah, Jakarta Book Fair kembali digelar. Dibuka 28 Juni oleh Gubernur DKI, Fauzi Bowo, akan ditutup 6 Juli 2008. Sepuluh hari yang menyenangkan bagi penggemar buku untuk berburu. Mulai dari buku baru, buku koleksi lama, sampai acara berjumpa dengan pengarangnya. Bertempat di Istora Senayan, sejak hari pembukaan pengunjung sudah datang dengan antusias.

            Harapan ketua panitia, Pesta buku Jakarta tahun ini akan dikunjungi oleh 5 juta pengunjung dalam 10 harinya (rata-rata per hari 500 ribu orang). Tahun 2007 tercatat 3,6 juta pengunjung. Antusiasme penerbit yang berpartisipasi juga tak surut. Tahun ini ada 242 penerbit membuka stand. Sambutan itu menunjukkan maraknya para pembeli buku yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, minat baca masyarakat juga terus berkembang.

Dalam pidato pembukaan, Fauzi Bowo memberikan apreasiasi positif dan ingin bersama-sama masyarakat untuk membudayakan membaca buku sehari-hari. Dalam pameran buku kali ini, bahkan, Foke menggelar stand khusus untuk menunjukkan koleksi buku-bukunya kepada para pengunjung. “Di kantor gubernur, saya tidak memiliki tempat untuk memajang dan menyimpan buku. Jadi dalam beberapa waktu masih tersimpan dalam kardus-kardus.”

Selanjutnya ia memuji panitia yang telah memberikan tema “Jakarta banjir buku” untuk Book Fair tahun ini. Kalimat metafora itu merupakan perlawanan terhadap kondisi Jakarta di musim penghujan, biasanya banjir di mana-mana.

“Saya ingin, selanjutnya Jakarta Book Fair ini kita namakan Jak-Book!” begitu ujar Gubernur di podium, disambut dengan tepuk tangan hadirin. “Kalau kita sudah punya Jak-Jazz, Jak-TV, Jak-FM, mengapa tidak ada Jak-Book?”

Kemudian Pak Fauzi juga berjanji akan secara konsisten, sepanjang menjabat menjadi Gubernur DKI, akan membuka pameran buku tahunan yang menjadi agenda tetap Jakarta setiap bulan Juni-Juli. Ia mengharapkan panitia tidak saja menawarkan arena untuk para penerbit dalam negeri. Berilah kesempatan kepada para penerbit asing untuk turut serta meramaikan Jak-Book. “Dengan demikian,” katanya, “kompetisi akan dengan sendirinya terbentuk dan mendorong kualitas para penerbit kita. Masyarakat juga jadi lebih tertarik untuk datang dengan luasnya pilihan yang ditawarkan.”

Dalam kesempatan itu, gubernur menyampaikan salut kepada Erick Tohir yang memiliki kontribusi besar terhadap upaya pemasyarakatan buku. Juga salut terhadap Yessi Gusman yang telah membangun jaringan taman bacaan di berbagai tempat. Untuk keduanya, panitia Jakarta Book Fair menyerahkan penghargaan berupa lukisan karikatur tentang kiprah mereka masing-masing.

Kita tahu, Gubernur DKI kali ini adalah seorang arsitek dan penggemar buku. Dengan haru dan bangga ia ceritakan, bahwa sampai saat ini, cucunya selalu meminta dibacakan buku menjelang tidur. Jadi, menurut pengakuannya, seletih apapun, ia akan menyempatkan untuk membahagiakan cucunya itu. Apalagi yang dimintanya merupakan kesukaannya.

Jadi, mari kita bersama-sama melakukan gerakan membaca dengan cara-cara yang mudah untuk membangun kebiasaan. Pertama, biasakan membaca lima menit sebelum tidur.” Demikian Foke menganjurkan. Dengan lima menit saja membaca, mungkin hanya satu-dua halaman, tetapi itu lebih baik ketimbang tidak melakukan apa pun.
            Berikutnya, apabila kita berjalan-jalan ke mal di mana pun, selain singgah ke berbagai tempat untuk belanja, mampirlah ke salah satu toko buku di mal itu. Mungkin awalnya tidak membeli, tetapi dengan melihat judul-judul baru, atau membaca rekomendasi yang dicantumkan di sampul belakang buku, akan memancing niat untuk membacanya lebih jauh. Ketiga, ia minta agar masyarakat mengujungi perpustakaan terdekat pada waktu luang. Duduk di perpustakaan sejenak, melihat-lihat atau membaca buku yang paling menarik minatnya, tentu tidak berat. Syukur akan menjadi hobi.

Apabila melancong ke luar kota atau luar negeri, belilah oleh-oleh buku. Itu serupa dengan pengalaman pribadi Pak Foke. Bahkan jika ia ditawari oleh-oleh para kolega atau sahabat yang ke luar negeri, ia selalu mengatakan: “Bawakan saja saya buku.” Itu sebabnya, rumahnya penuh dengan buku. Kini ketika pindah ke rumah dinas gubernur, ruang-ruangnya justru dipenuhi dengan hiasan guci dan benda-benda yang tak bisa dibaca.

Pengalaman masa kecilnya mungkin yang membawa kebiasaan itu. Dulu, setiap kali Fauzi Bowo kecil menanyakan arti kata asing kepada ibunya, selalu dimintanya untuk membuka ensiklopedia. Dengan membuka kamus atau ensiklopedia, kita akan menemukan bukan saja arti tunggal dari kata. Dengan cara itu perbendaharaan kata kita semakin kaya. Jadi, anjurnya, paling tidak keluarga kita memiliki ensiklopedia.

Buku adalah jendela dunia, demikian kata ayah Indira Gandi ketika meringkuk dalam penjara. Ia selalu ingin dibawakan buku untuk menemani hari-hari sepinya dalam sel politik. Benar yang dikatakannya. Untuk mengetahui isi seluruh Bumi, kita tak perlu berjalan mengelilinginya, jika tak punya biaya dan kesempatan. Cukup dengan membaca buku, pikiran dan hati kita bisa berwisata ke berbagai tempat. Karl May, bahkan menuliskan kisah sangat menarik sepanjang zaman dari “petualangan” yang tidak dilakukannya. Ia cukup menulis di meja tulisnya, termasuk dalam penjara, sementara para pembaca dapat membayangkan Winetou dan kuda yang dinamai Mustang Hitam di ranah Indian.

Sangat menarik Pesta Buku Jakarta tahun ini karena dilengkapi dengan agenda acara yang tak pernah sepi sepanjang 10 hari. Ada peluncuran buku-buku baru dari sejumlah penerbit, diskon besar-besaran, pelatihan penulisan kreatif, book signing oleh pengarang idola, jumpa pengarang kecil, diskusi bedah buku, dan beberapa lomba yang berkaitan dengan buku.

Agaknya buku telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kadar intelektual masyarakatnya. Buku juga menunjukkan strata kebudayaan. Walaupun, dengan kenaikan harga BBM dan turunnya daya beli masyarakat yang membuat buku jatuh ke prioritas kesekian, minat baca kaum muda makin tinggi. Komik tetap laris. Para penerbit masih menggebu untuk menerbitkan pelbagai jenis bacaan. Baik buku-buku praktis, filsafat, agama, maupun sastra.

Kapan lagi membeli buku kalau tidak pada kesempatan seperti itu? Jak-Book! Panggilan yang manis, bukan?

(Kurnia Effendi)