Tuesday, August 12, 2008

Surat Balasan untuk Ryana Mustamin

Jakarta, 11 Agustus 2008

Nana, merebak airmataku membaca penuturanmu. Terus terang, banyak caramu untuk membuat aku terus menulis, termasuk yang terakhir kautawarkan. Tetapi, seperti kataku di atas panggung tanggal 30 Juli itu, kesempatan memang tak datang dua kali; walaupun ada juga kesempatan yang datang berulang kali, dan senantiasa luput dipenuhi. Kini, mungkin aku harus “membalas budi” agar giliranmu menulis membara kembali. Aku tahu, Nana masih menulis, meskipun mungkin bukan semata sastra, sebab ada bidang profesi yang lebih memungkinkan untuk mengalirnya gagasan dalam berbagi pendapat dan wawasan.

Terima kasih untuk sebuah kenangan yang tak akan tergusur oleh sapuan anak badai sekalipun. Walau semua jejak tapak kaki kita, di Pantai Losari, tak mungkin ditemukan lagi, mengingat restoran terpanjang yang menyajikan pisang epek itu telah pindah ke sebuah anjungan buatan. Mungkin masih ada saksi luruhan embun yang turun ketika kita berjalan menuju Benteng Fort Rotterdam. Kita berjalan beriring namun tak saling menggenggam  tangan, padahal banyak alasan untuk melakukannya, ketika udara menyusutkan suhu di bawah lazuardi yang membentang penuh bintang. Malam itu gerbang benteng telah tutup. Katamu ada semacam markas sastrawan di dalamnya, namun malam itu tak ada kegiatan untuk membuatnya terjaga.

Lalu kita menyusuri Jalan Somba Opu dengan taksi yang melaju perlahan. Sebuah jalan yang kupaparkan dalam cerpen ”Sepanjang Braga”, delapan tahun sebelum kukunjungi kotamu. Kugambarkan ia mirip Malioboro, namun ternyata lebih sunyi dan hampir semua tokonya tutup lebih awal. Terima kasih telah mengingatkan itu semua: energi yang tersimpan untuk sesekali meletup menjadi kekuatan menulis. Mungkin harapan itu pula yang membuat aku menulisi mobilku dengan “sepanjang braga”, sebagai utang novel yang tak kunjung selesai. Dalam cerpen 5 versi, sudah tentu banyak terjadi anakronisme. Tapi bukan itu yang hendak dipersoalkan benar, karena ada kerinduan yang selalu dibangkitkan kembali melalui  cerita-cerita kehilangan.

Baiklah, Nana, sebelum airmataku merebak, kuakhiri saja surat balasan ini. Seperti ketika kusembunyikan rasa haru menjelang perpisahan di bandara Ujungpandang, dalam sebuah ruang telepon. Bilah-bilah waktu, saat itu, seperti pisau yang berkewajiban merajang pertemuan menjadi perpisahan. Dengan demikian, mungkin, persahabatan menampakkan wujud yang sebenarnya.

Salam sayang, Didi

 

 

 

     

 

 

2 Comments:

Blogger PennyLane said...

Surat yang indah. Betapa beruntungnya Ryana.

**ah, sayang bukan Riana. Hanya beda satu huruf saja :)**

5:15 PM  
Anonymous kurnia_ef said...

Riana, eh, Pannylane, itu jawabanku untuk surat Nana yang ditulis melalui situsnya di www.ryanamustamin.com - hehe, jadi jika ingin mendapatkan "jawaban" yang romantis, tulislah surat yang romantis padaku...hiks.

Senang mengunjungimu blogmu:hari-harimu begitu ramai. Dan karena rajin mengisinya pula.

Salam manis

7:02 AM  

Post a Comment

<< Home