Thursday, January 08, 2009

Ida Arimurti, Ikon Dunia Radio

Ingat Ida Arimurti ingat radio. Atau sebaliknya, ingat radio ingat Ida Arimurti. Begitu karibnya Ida dengan radio, terbentuklah ikon di hati dan pikiran pendengarnya. Mari kita dengar komitmen dan loyalitasnya terhadap dunia radio:

Keputusan saya memfokuskan diri di dunia radio adalah karena saya merasa membutuhkan citra yang terarah. Jika orang mendengar nama Ida Arimurti, maka pasti akan terkoneksi dengan radio. Saya ingin menjadi orang radio profesional, tiada lain.”

Jelas, bukan? Lantas apa yang telah dilakukannya selama ini? Tentu saja bekerja keras, disiplin, konsisten, dan ia percaya bahwa penyiar yang baik adalah penyiar yang selalu menambah pengetahuannya tentang apa pun setiap waktu bagi pendengarnya. Ida melahap semua media, baik buku, majalah, internet, televisi, maupun radio lain untuk memperoleh referensi dan informasi.

“Jadilah penyiar yang pintar, jangan menjual kebodohan,” demikian sarannya.

Itu telah dibuktikan oleh Ida melalui kariernya yang panjang. Ida Arimurti resmi menjadi penyiar Radio Amigos tahun 1982. Di sana ia belajar menjadi disc jockey (DJ). Mengenal dan mengakrabi peralatan radio (dulu masih menggunakan piringan hitam dan kaset). Selain itu, Ida belajar mewawancara narasumber, membuat naskah panduan untuk siaran, juga menyiapkan diri menjadi penyiar yang tahu keinginan pendengar.

Dari Amigos, Ida beralih ke Prambors (singkatan dari Prambanan-Borobudur), lantas ke Female Radio. Sempat mendirikan radio dengan label Woman Radio sebelum pindah ke Delta FM hingga hari ini. Pengalaman panjangnya itu kini disusun dalam bentuk renungan ke sebuah buku. Diluncurkan pada peringatan ulang tahunnya, 17 Desember 2008 yang baru lalu. Renungan Ida Arimurti, demikian judul bukunya, diterbitkan oleh Hikmah Publishing (Mizan Group), memang mengandung banyak pelajaran yang pantas kita simak.

Jadi apa resep menjadi sebuah pribadi yang disukai banyak orang? “Berpikir positif, bersedia berbagi, berkomunikasi dengan baik. Berbicara itu itu mudah, tetapi berkomunikasi belum tentu setiap orang mampu. Semangat berbagi juga jangan dibatasi oleh ras dan agama. Karena berbagi itu membangun kedekatan, terutama terhadap rekan kerja, yang akan menghasilkan team work yang solid.”

Bukti bahwa Ida Arimurti dekat dengan banyak kalangan, dapat dibaca pada bukunya itu. Sejak Agum Gumelar, Farhan, Rhenald Kasali, Ratih Sang, Krisna Purwana, Komaruddin Hidyat, Nina Akbar Tanjung, Charles Bonar Sirait, Tantowi Yahya, Haidar Bagir, Bondan Winarno, Diana Caroline, dan banyak lagi, menyumbangkan tulisan terkait dengan topik perjalanan hidup Ida. “Membuat hidup jadi lebih berarti,” ungkapnya.

Setelah 25 tahun berkarier sebagai penyiar, menurut pengakuan Ida Arimurti, ia mendapatkan kesadaran baru. Ternyata menjadi penyiar tidak semata berbicara untuk didengarkan, tetapi juga belajar mendengarkan orang lain.

“Itulah yang membuat saya mencintai profesi penyiar karena radio merupakan media yang lebih intim dibanding yang lain. Saya sudah mendengar ribuan cerita dari para pendengar, baik tentang dirinya maupun tentang kehidupan orang lain. Itu semua menginspirasi saya.”

Dilahirkan dari pasangan Bapak S. Probowarsito dan Ibu Rosalia Sunarsih, Ida memiliki delapan orang adik. Ida sangat bersyukur memiliki orang tua yang begitu baik, bijaksana, dan mendukung profesinya. Kini ia telah memiliki putra bernama Kevin dari perkawinannya dengan suami tercinta Ir. Johny Dharma Setiawan.

Jadi sampai kapan akan menjadi penyiar radio? Tak perlu disangsikan jawabannya. Pasti ia cinta sampai tutup usia. Karena ia berbahagia dengan kemampuannya berbagi suka-duka bersama para pendengarnya.

(Kurnia Effendi)