Friday, January 09, 2009

Sujiwo Tejo, Dalang Multitalenta

Sebagai pencipta, seniman memang harus kreatif. Sebut saja pelukis, selain pandai menggambar (sementara tidak semua orang mampu), perupa dwimatra akan terus menggali keahliannya dalam teknik dan pemilihan obyek. Pencipta lagu juga demikian. Bukan hanya menyusun harmoni nada-nada atau komposisi notasi yang membuat melodi dan irama, melainkan terus menjajaki pelbagai kemungkinan untuk menciptakan aliran baru. Tak kecuali dengan menari, membuat patung, dan yang relatif kecil modalnya: sastrawan.

Sujiwo Tejo, yang pernah mengenyam pendidikan Jurusan Matematik (1980) dan Teknik Sipil (1981) di Institut Teknologi Bandung, justru menguasai banyak jenis kesenian. Waktu kuliah, dia aktif dalam kegiatan karawitan sebagai ekstrakurikuler. Kekaribannya dengan kesenian Jawa Timur, membuat ia dan teman-temannya tergerak mendirikan kelompok Ludruk ITB. Kita tahu, ludruk adalah seni panggung tradisional yang dalam menyampaikan fragmen dihiasi banyak humor, diawali dengan tari dan tembang.

Sejak Sujiwo Tejo kuliah, sudah ketahuan bahwa ia memiliki bakat mendalang. Beberapa kali ia didaulat untuk menggelar pertunjukan wayang semalam suntuk. Sebagai dalang, saat itu, tampak gagasan mbelingnya mulai dipelihara dan dikembangkan. Pada dasarnya, Tejo (begitu ia akrab disapa) memang dibesarkan di tengah-tengah kesenian tradisi Jawa Timuran. Terbukti, ia pandai menabuh gamelan, nembang, menari, mencipta lagu, dan menjadi dalang. Setidaknya, secara formal Sujiwo Tejo pernah ditanggap oleh RRI Pusat Jakarta. Pak Parni Hadi, Direktur RRI mengaku mendapat banyak komentar: “Wah, dalang gendeng kok masuk RRI.” Saat itu, Tejo menyambut dengan kelakar: “Hanya RRI yang berani nanggap saya.”

Lahir dengan nama Agus Hadi Sudjiwo, di Jember, 31 Agustus 1962, kini dikenal sebagai seniman yang memiliki multitalenta. Selain menjadi dalang yang sering lepas dari pakem, ia menggeluti profesi melukis, setelah mengeluarkan beberapa album rekaman. Di samping itu, ia membintangi banyak film, yakni Telegram (arahan sutradara Slamet Rahardjo) bersama Ayu Azhari (2001), Kafir (2002) Kanibal (2004) menjadi dukun Kuntetdilaga, Janji Joni (2005), Kala (2007); juga berperan sebagai sutradara sejumlah pertunjukan. Battle of Love” adalah salah satu pertunjukan musikal yang digarapnya dan ditampilkan di Gedung Kesenian Jakarta.

Selepas dari ITB, ia pernah menjadi wartawan Kompas selama 8 tahun, dan pandai menulis cerpen. Jadi, jenis kesenian apa yang belum dirambah oleh Tejo? Mungkin tinggal sebagai pesulap yang belum dijajaki.

Belum lama ini, Tejo mempersembahkan pagelaran berjudulPengakuan Rahwanadalam rangka ulang tahun Gedung Kesenian Jakarta. Dalam cerita itu Rahwana digambarkan sebagai raksasa yang pada dasarnya baik. Semacam kutukan telah membuatnya berkepala sepuluh. Dan, seperti yang disampaikan oleh Tejo di atas panggung, bahwa sesungguhnya Dewi Shinta adalahanakRahwana.

Saya ini seniman yang berani menempuh jalan hidup semata sebagai seniman, tidak merangkap bekerja sebagai karyawan perusahaan mana pun.” Pernah dia sampaikan pernyataan itu pada acara pembacaan puisi alumni ITB di Warung Apresiasi Bulungan. Kenyataannya memang demikian. Untuk membayar honor para sinden dan pendukung  pertunjukanPengakuan Rahwana”, ia mengaku harus menjual lukisan.

Loyalitasnya terhadap kesenian tak diragukan lagi. Ia juga bersedia membantu program pendidikan dan pelatihan anak-anak putus sekolah yang dikelola Yayasan Titian Penerus Banngsa melalui drama musikalPangeran Katak dan Putri Impian”. Merasa bahagia dengan hidupnya, ia telah menerbitkan 3 buah buku, yakniKelakar Madura buat Gus Dur” (2001), “Dalang Edan” (2002), dan “The Sax” (2003). Sehari-hari ia berkesenian di ‘padepokannya’ yang diberi nama Semar Mesem.

“Tunggu pertunjukan besar saya, Maret 2009,” Janjinya.

(Kurnia Effendi)