Friday, July 14, 2006

Percaya

MUSIM dingin telah mencapai puncaknya. Amerika Utara seperti beku oleh salju tebal yang menutupi setiap jengkal tanah. Seorang lelaki tua berdiri sendiri di ujung sebuah jembatan, di bawah rintik butir salju yang terus berjatuhan dari langit kelabu. Siang demikian gelap. Dan sepertinya malam akan segera datang tanpa seorang pun bakal melewati jalan itu.

 

Beberapa jam kemudian, masih dalam balutan mantel tebal, lelaki itu tetap menunggu, berharap ada orang yang akan membantunya menyeberangi jembatan untuk mencapai ujung yang lain. Tapi senja telah lama lewat, dan tiada tanda-tanda akan datang orang selain dirinya yang nyaris membeku.

 

Namun kemudian terdengar samar-samar suara derap langkah kuda. Di tengah derau angin bersalju, ia begitu yakin dengan pendengarannya, bahwa serombongan penunggang kuda akan melewati jalan itu. Benar dugaannya, benar pula harapannya, dari jauh ia melihat sayup-sayup gumpalan warna hitam, sebagai bentuk awal beberapa ekor kuda dengan penunggangnya, yang sedang berduyun ke arahnya.

 

Tibalah kuda-kuda itu dengan langkah yang bergegas melewati tempatnya berdiri, menikung dan segera naik ke jembatan. Lelaki tua itu pun memandangi satu per satu penunggang dan menghitung mulai dari kuda yang pertama hingga kuda yang ke sepuluh. Ah, tampaknya tak satu pun dari mereka yang perduli dengan keadaannya itu.

 

Ketika sampai pada penunggang kuda yang kesebelas, lelaki tua itu pun tergerak untuk melambaikan tangannya. Laki-laki gagah di atas punggung kuda itu yang menjadi bagian terakhir dari rombongan, serentak menarik tali sanggurdi. Kudanya berhenti seketika dan ia pun melompat turun, menyapa lelaki tua yang gemetar oleh cuaca dingin.

 

Bolehkah aku minta tolong kepadamu? Aku butuh tumpangan untuk melewati jembatan panjang ini, dan turunkan aku di seberang sana.”

 

Ayolah naik!” Penunggang kuda itu, dengan cekatan dan seolah demikian ringan, mengangkat tubuh lelaki tua itu ke atas punggung kuda. Lalu sang turangga dihentak untuk kembali berlari melewati lajur jembatan yang memutih oleh timbunan salju. Derap keempat kaki kuda itu teredam gumpalan es putih yang diinjaknya. Lelaki tua itu tidak diturunkan di ujung jembatan, sebagaimana permintaan awalnya. Sang penunggang kuda membawanya terus sampai menjumpai rumah pertama yang pantas untuk singgah. Di beranda teduh itu, setidaknya mereka mendapat perlindungan dari hujan salju.

 

Sebelum pergi, penunggang kuda itu bertanya: “Mengapa anda baru melambaikan tangan kepadaku, padahal ada sepuluh penunggang kuda sebelumnya. Apakah tidak khawatir, jika aku luput melihat anda?”

 

“Tuan, saya hanya akan minta tolong kepada orang yang berniat menolong. Saya melihatnya melalui cahaya mata Tuan, sedangkan pada mata mereka saya tidak melihat harapan itu.”

 

Tak sampai bertahun-tahun sesudah peristiwa itu, sang penunggang kuda melangkah ke Gedung Putih sebagai salah seorang Presiden Amerika.

 

 

 

CERITA di atas menjadi dramatis sekaligus spektakular karena ada semacam ekstrem yang menjembatani. Seorang lelaki tua yang nyaris beku di ujung tikungan sebuah jembatan, dengan gerimis salju yang tak kunjung henti selepas senja. Seorang penunggang kuda yang berada pada urutan paling belakang, melaju dalam gelap. Momen yang terjadi hanya sekejap, komunikasi isyarat yang didasari oleh rasa percaya. Lelaki tua itu begitu percaya lambaian tangannya akan dilihat dan ditanggapi. Sang penunggang kuda merasa yakin tindakannya untuk berhenti menolong itu benar.

 

Mungkin saat ini, saat saya menuliskan kembali kisah ini, ada seseorang yang sedang berdiri dalam posisi seperti lelaki tua itu. Sendiri dalam arti kiasan, terlindung gelap dan mungkin batinnya sedang merasa kedinginan, bersabar menunggu sang penolong. Dalam rentang waktu tertentu ia akan menanti, mencari-cari tatapan mata yang mengandung harapan dan niat untuk menyelamatkan dari ketiga perasaan itu: sendiri, gelap, dingin.

 

Jembatan yang harus diseberanginya boleh jadi merupakan ujian yang harus dijalani. Serangkaian proses, dokumen yang mungkin menyembunyikan kebenaran dalam tumpukan muslihat, dan hari-hari tanpa lampu kehangatan. Tapi tentu ada bagian pelajaran yang tak diperoleh dari kelas formal. Di bagian ini, dalam hidup yang kita tak pernah menduga sejak awal, hikmah itu menjadi semacam harta karun. Dengan rasa sepi yang ngilu, mungkin terlepas juga setitik air mata, akan terasa betapa besar arti sahabat. Doa yang datang dari segala arah, sepanjang yang diayun adalah langkah kebenaran, tak akan diabaikan oleh Tuhan. Itu yang harus dipercaya.

 

Saya selalu menasihati diri sendiri, saat dihempas musibah, bahwa orang-orang besar selalu lahir dari kesulitan. Banyak tokoh sejarah yang bersinar justru dari sudut sebuah penjara. Bung Karno misalnya, Sutan Syahrir contohnya. Oleh karena itu, jadikan setiap himpitan sebagai batu asah yang akan membentuk kita menjadi sekeping berlian.

 

Lelaki tua dalam awal kisah ternyata tidak sendirian. Demikian juga Widjojo Hartono. Atau siapa pun yang tersandung jatuh. Harus tetap memelihara keyakinan, rasa percaya itu, yang membuatnya tetap tegak menunggu ‘sang penunggang kudalewat: Pertolongan Tuhan dalam bentuk yang belum tentu kita tahu saat ini. ***

 

 

( Kurnia Effendi, untuk kolom JEDA tabloid PARLE 17 Juli 2006 )

 

 

 

 

 

 

 

1 Comments:

Blogger Andreas Harsono said...

Dengan hormat,

Saya lagi menulis sesuatu tentang pemisahan harian Suara Maluku dan Ambon Ekspres. Apakah "Widjojo Hartono" yang Anda sebut ini adalah "Tony" yang dulu pernah jadi general manager Suara Maluku? Saya ingin interview lebih jauh kalau ini orang yang sama. Terima kasih.

7:39 AM  

Post a Comment

<< Home