Monday, January 29, 2007

Prihatin

PADA sebuah senja, ketika Jakarta diguyur hujan yang membuat sejumlah besar ruas jalan menjadi mampat, saya menerima pesan tertulis melalui seorang teman, Nino Graciano. Dia seorang aktivis Gerakan Integrasi Nasional yang demikian rindu terhadap kejayaan Indonesia yang damai dan mandiri. Tentu dia tidak sendirian. Nino bersama teman-teman yang memiliki kesadaran terhadap nasionalisme yang lebih membumi.

Lengkap saya kutip di sini suara sedihnya yang tertera melalui SMS: “Observasi selama mengikuti Global Peace Forum  di Bali, 21-23 Januari: Selamat pagi. Kondisi negeri kita sungguh sangat memprihatinkan. Setiap jengkal tanah kita, sumber alam kita, barangkali nurani kita pun telah terjual / digadaikan kepada orang-orang asing, saudara-saudara kita yang dulu begitu getol melawan ketidakadilan telah dipadamkan apinya oleh kekuatan-kekuatan asing yang ingin memperbudak Indonesia / dibeli oleh para politisi kita. Peta keterpurukan kita sudah makin jelas. Semoga Gusti Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menyadarkan saudara-saudara kita yang masih terlena. Inilah jihad kita. Indonesia Jaya! Tolong sebarkan – National Integration Movement.”

Sesungguhnya, dekadensi semacam ini telah terjadi sejak saya kuliah, hanya mungkin belum semerata sekarang. Setidaknya saya ingat, bagaimana Lapangan Basket ITB menjadi arena yang bersejarah. Cukup legendaris sebagai bagian pondasi oposisi untuk gerakanperlawananterhadap kemapanan. Tentu yang dimaksud adalah kemapanan segelintir orang yang begitu dekat dengan kukuasaan. Sementara kekuasaan saat itu begitu solid, sistematis, dan melakukan penekanan (represif) dengan senyum terus tersungging di wajah yang tenang. Berhutang besar kepada negara-negara maju dan lembaga keuangan dunia untuk kesejahteraan (manipulatif) rakyat, sebagian untuk membangun imperium pribadi dan kroninya. Ah, itu masa lalu yang dampaknya terus berlarat-larat hingga hari ini.

Saya mungkin salah seorang yang turut menyaksikan bagaimana para politisi dan jajaran pimpinan partai politik di zaman reformasi ini yang semasa mahasiswa dulu begitu vokal menyerukan keadilan dan berapi-api membela rakyat. Bahkan seolah membenci uang ayahnya yang kebetulan pejabat, mungkin karena waktu itu biaya kuliah murah dan bisa mencarinya secara pribadi dengan menjadi guru kursus atau reparasi ini-itu. Namun sekarang, saya juga tahu siapa yang paling getol menyuarakan kepentingan pribadinya yang dibungkus dengan perisai rakyat. Jadi rupanya, rakyat di mana-mana sangat berjasa untuk meniti karir seseorang. Sementara sang rakyat bergeming di tempatnya yang paling terpuruk.

Nino, dalam beberapa kesempatan, selalu menginformasikan gerakan lembut namun perkasa, yang mencoba kembali kepada hati nurani. Di ujung tahun, ketika hampir semua orang memilih untuk merayakan Tahun Baru dengan gegap gempita, Gerakan Integrasi Nasional justru menandai dengan sebuah prasasti perdamaian dunia di Ground Zero, Kuta, Bali. Setidaknya seluruh wakil pemimpin agama turut mendukung upaya ini.

Sesungguhnya, kita agak jera dengan aspirasi besar yang tampak bombastis namun ujung-ujungnya ada maksud-maksud terselubung. Kita seperti tertampar oleh kata-kata sendiri, setiap kali melihat kenyataan yang sungguh terbalik dengan niat semula. Oleh karena itu, sebaik-baik gerakan, harus ditunjukkan melalui perilaku yang didasari akal budi dan ditunjukkan melalui bukti. Tak perlu hasil yang besar, namun sebaiknya konsisten dan bergerak secara akumulatif. Bukankah kita sudah berulang kali kecewa setelah mendewa-dewakan figur seseorang?

Kembali kepada kondisi Indonesia akhir-akhir ini, rasanya kita seperti anak durhaka yang sedang menerima kutukan Sang Ibu Pertiwi. Muka kita sedang disiram lumpur wirang, sebagai aib yang ditunjukkan oleh Tuhan. Sejumlah safari kita seperti disesatkan ke tempat-tempat yang menjadi berkerumunnya Sang Maut, sebagai bentuk menyimpangnya kita dari jalan Tuhan. Terus ke mana kita mesti sembunyikan wajah dan langkah dari sejarah perilaku yang sudah serba salah?

Saat ini kita tak hanya bisa merasa prihatin. Hidup terus bergerak bahkan gemuruh oleh tumpang-tindihnya cita-cita luhur dan keinginan untuk saling membuat hancur. Sebenarnya ada siapa di kepala dan hati kita? Hantu atau Tuhan? Tapi, rasanya, serendah-rendah empati yang dapat kita miliki adalah rasa prihatin. Setelah itu, lakukanlah yang kita mampu untuk mengembalikan Indonesia ke negeri loh jinawi.

(Kurnia Effendi, untuk tabloid Parle)