Friday, January 26, 2007

Sekuntum Lily

SEKUNTUM lily itu masih di depan pintu. Di lantai lembab, dekat jejak sandal. Jatuh dari tangannya yang gemetar. Ia tidak menoleh lagi ke arahkuseseorang  yang pernah mencintai dengan tulusmelampaui jeruji, yang membuat kami terpisah ruang. Bertambahnya jarak, seperti terlepasnya daun kering dari tangkai, meluncur ke bumi, dan tak berdaya

….

AKU sedang bertimbang-timbang ikut yang mana, sewaktu Yulia menghampiri dan menyihirku: “Kutunggu lima detik, ikut atau tidak?”

Ke mana?”

Tinggal tiga detik! Makan sup iga di Cilandak.”

“Jauh amat!”

“Oke, waktu habis!” Yulia melesat ke arah koridor.

“Yulia, tunggu!” teriakku, dan kaget sendiri karena ini di tengah kampus yang cukup hening.

“Minus empat detik! Cepatlah!”

Aku mengejar Yulia seperti menggunakan sepatu roda. “Eh, sama siapa?”

“Jangan khawatir, banyakan kok. Edo, Fahri, Regi, Asoka…”

Tikungan demi tikungan, sampailah ke tempat parkir. Dalam sebuah Escudo, Yuda sudah menyalakan mesin. Jadi kami bertujuh? Mana cukup?

“Fahri nggak jadi ikut, sakit perut.” Ujar Yuda tanpa menoleh. Namun ia tahu kehadiran kami.

“Huh, klasik!” gerutu Yulia. “Tahu nggak? Ini giliran dia yang bayar.”

Edo dan Regi berjalan dari arah lain. Asoka masih asyik dengan ponsel di telinga. Lalu kulihat tangan Asoka melambai, seperti mengisyaratkan tak jadi ikut.

“Ya, sudah, kita berlima. Lebih enak, kan? Tak berdesak-desak,” kata Regi.

Seandainya aku seorang cenayang, mampu melihat sedikit saja ke masa depan, mungkin aku akan mengurungkan niat untuk ikut. Sebuah ketergesaan kadang-kadang menjebak. Itu hampir selalu kualami. Namun, karena kepergian kami ternyata bersama Yuda – setidaknya ia cukup populer di kampus – pikiranku berubah. Alangkah asyiknya!

 

 

(Petikan dari cerita Sekuntum Lily, Kurnia Effendi)