Monday, February 05, 2007

80's

APA yang menarik dari tahun 80-an? Pertanyaan ini mencuat oleh sejumlah kegiatan yang menunjukkan ciri-ciri masa lalu itu. Dua dekade yang kini telah menjadi masa silam itu bagai lahir kembali dalam aura yang, entah kenapa, menunjukkan pesona tersendiri.

Misalnya ketika Metro TV menggelar tema 80-an dalam acara Back to Beck yang dipandu oleh Becky Tumewu, di sana ada ikon selebritis sebagai penanda: Herman Felani dan Joan Tanamal. Dalam dialog yang berkembang, muncul sederet judul film, lagu, mode, bahkan pernik yang semburatkan awal musimnya di tahun 80-an. Atau program pagi di Trans TV, Good Morning, yang mengangkat komunitas milis 80-an, yang dimotori oleh Q, juga menghadirkan nuansa tahun-tahun itu. Adakah kelompok musik bernama Club Eighties juga mengumandangkan kembali langgam gaya tahun 80-an? Sementara kita tahu, Lembu, Desta, Vincent dan kawan-kawan adalah produk ABG tahun 2000-an, atau dengan istilah lain: generasi MTV yang menyambut gegap-gempita era milenium. Dan yang baru-baru ini berpentas di Warung Apresiasi Bulungan adalah duet Ari Malibu-Reda Gaudiamo, pelantun lagu yang dimusikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono melalui komposer Ags Arya Dipayana, Budiman Hakim, Umar Muslim dan Mimin Larasati. Bukankah mereka berdua mengawali debutnya sejak 1982? Ada satu lagi: film De Biji’s, agaknya juga mengangkat kisah sebuah band yang pernah membahana di tahun 80-an.

Jadi apa yang memesona dari tahun 80-an? Mungkin tidak dapat serta-merta dijawab dengan satu kata atau kalimat yang paling tepat. Umumnya sebuah tren atau periode, seluruh elemen berdegup bersama, bangkit sebagai fenomena, mewabah dan hidup dalam irama sebuah generasi. Setidaknya kita akan teringat dengan nama Yesi Gusman-Rano Karno di awal karir mereka, juga Onky Alexander di pengujung akhir tahun 80-an dengan Catatan Si Boy, dalam bidang film. Mungkin kita ingat pada nama Chaseiro, Fariz RM, Iis Sugianto, atau bahkan penyanyi cilik Chicha Koeswoyo dan Dina Mariana. Mungkin kita juga terkenang pada novel Cintaku di Kampus Biru (Ashadi Siregar) atau Karmila (Marga T.), juga serial Lupus karya Hilman Hariwijaya, tentu saja. Bagaimana gaya anda berpakaian waktu itu? Apakah kemeja lengan pendek yang digulung selipat, cowok dengan rambut gondrong di belakang, atau celana cutbrai? Apakah gadis-gadis mengenakan rok dengan rimpel atau lengan kaus yang lebih panjang dari jaketnya? Atau malah berpenampilan funky? Jangan lupa, Titi DJ untuk album pertamanya, Imajinasi, sudah sibuk dengan mode yang konon berawal dari Harajuku, Jepang. Agnes Monica kini memulai lagi demam itu, sebagai siklus. Nah, ternyata banyak juga ikon yang terlompat dari memori yang seolah kembali segar.    

Memang sebuah zaman, masing-masing, selalu menunjukkan masa keemasannya sendiri. Misalnya dalam sastra, menyebut angkatan 45 akan dengan sendirinya muncul nama Chairil Anwar; angkatan 66 tidak akan lepas dari Taufik Ismail, dan melalui perseteruan Manikeboe dan Lekra tentu tercetak Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Loebis, sekaligus sebagai gema awal karya-karya Goenawan Mohamad. Juga sebuah gerakan politik yang menjadi latar belakang semua itu: revolusi yang menggugurkan tujuh pahlawan.  Kemajuan teknologi informasi yang menandai semacam revolusi komunikasi di tahun 90-an, suatu saat nanti, tentu akan merayakan nostalgianya yang kita belum tahu bentuknya seperti apa. Boleh jadi dengan cara teleconference antara Bumi, bulan, dan Mars...

Kembali kepada aroma 80-an, bagi kita yang lahir tahun 60-an, tentu mengalami semacam ikatan emosional. Suasana itu merebak dengan citra sekelompok pendaki dan para pecinta perpustakaan. Petualangan di gunung, api unggun, menyanyi lagu-lagu berirama country, mengirim kartu pos, diskusi antarmahasiswa di kampus-kampus; tidak hanya menjadi perilaku namun juga tersurat pada cerpen dan novel yang terbit pada masa itu. Keberbedaan cara bergaul dan situasi pendukungnya itulah yang, menurut saya, menciptakan sebuah jarak budaya dengan generasi sekarang, generasi anak-anak dari para pemeran tahun 80-an.

Mengamati dunia gemerlap (dugem) hari ini, kita yang mekar di tahun 80-an seperti merasa menjadi terlampau tua. Dengan mazhab SMS (pesan pendek nan sunyi) yang seolah membiarkan sebuah generasi ”autis” berkembang, sementara di media maya begitu gemuruh gelombang informasi menyerbu, ada bagian-bagian yang membuat para Eighties ketinggalan zaman.

Dari posisi seperti ini, sentimental itu menyeruak. Kita yang tumbuh di era 80-an merasa rindu masa lalu. Rindu zaman keemasan itu, saat setiap pemuda merasa eksis. Kesepian di tengah keramaian itu mengundang pikiran untuk kembali berkomunikasi dengan teman-teman lama. Gayung bersambut, apalagi ditopang oleh teknologi masa kini, pada akhirnya pertemuan demi pertemuan lekas tercapai. Pelbagai gagasan dikembangkan, cahaya mulai menyala, dan jadilah semacam perayaan kembali kenangan 80-an. Ini menurut saya yang kebetulan juga perindu masa lalu sebagai revisiting the past. Menggemakan kembali lagu-lagu Leo Kristi, mendengarkan irama jazz Karimata, membaca puisi mbeling Remy Sylado (yang mulai menapak sejak medio 70-an). Bukan untuk terlena secara mendayu-dayu, melainkan menimba pengalaman baiknya, pelajaran moral yang mungkin masih berharga pada hari ini.   

(Kurnia Effendi)