Tuesday, April 24, 2007

Novel

SEORANG teman sedang menulis novel. Sesungguhnya ia orang yang sibuk, bekerja lebih dari sepuluh jam sehari. Oleh sebab itu, calon novelnya yang pernah dibocorkan dalam perjalanan bersama sekitar enam bulan lalu, belum juga rampung sampai hari ini. Ia, Arya Gunawan, seorang kordinator bidang jurnalistik untuk Unesco Indonesia yang membawahi wilayah Asean, hanya ingin menyampaikan anatomi cinta melalui idiom stasiun kereta api. Di sana, menurutnya, ada sebuah area yang akrab dengan kegembiraan di satu momen dan kesedihan di momen yang lain. Sejumlah orang yang bertemu dan sejumlah orang yang berpisah.

            Di tengah proses penulisannya yang tampak sudah utuh ituia begitu fasih menggambarkan plot novelnyaia justru membaca novel-novel lain. Satu di antara novel yang dilahapnya itu karya Orhan Pamuk, pemenang hadiah Nobel sastra tahun 2006. Pengarang Turki kelahiran 7 Juni 1952 itu telah memesonanya melalui Snow, setebal 400-an halaman. Begitu hebatnya novel itu baginya, ketika menceritakan kembali, tampak ekspresi wajahnya yang bersinar-sinar. Dan saya yang mendengarnya seolah sedang berada pada guguran salju yang menghiasi awal maupun akhir novel itu.

            Ada apa sebenarnya dengan novel yang dibacanya itu sehingga Arya berencana untuk menerjemahkannya? Pertama mengenai gaya penceritaan yang luar biasa. Sang pengarang berperan sebagai narator, bahkan mengungkapkan bagaimana setiap gagasan dari novel itu menghampiri benak dan pikirannya ketika menulis Snow. Kedua, ada sejumlah novel asing yang diterjemahkan secara buruk, sehingga kehilangan pancaran makna dan keindahannya. Mengenai hal yang terakhir itu, Alfons Taryadi, pakar penerjemah, pernah mengeluhkan kondisi penerjemahan karya sastra asing di Indonesia.

            Dalam pengamatan sepintas, segmentasi novel lebih luas. Novel lebih banyak diminati di antara genre karya sastra yang terbit di Indonesia. Mengalahkan kumpulan cerpen, puisi, atau esai sastra. Barangkali karena novel lebih utuh mengusung cerita / kisah hidup dibanding cerpen; lebih universal disbanding puisi yang bersifat personal; lebih menghibur ketimbang esai sastra yang sarat analisis. Pertanda itu dapat ditengarai dari kecenderungan para penerbit yang agak membatasi kelahiran buku-buku antologi puisi. Maraknya novel-novel lokal (Indonesia) dan terjemahan (asing) menunjukkan reaksi atas kegairahan sambutan pembaca. Bagaimanapun penerbit berbeda dengan pengarang. Ia merupakan lembaga komersial yang berpijak pada perhitungan untung-rugi.

            Kini tak hanya penerbit besar semacam Gramedia Group (GPU, Grasindo, KPG) atau Mizan Group (Mizan, Bentang Pustaka, Qanita, Hikmah), Serambi, dan Grafiti saja yang berlomba memenuhi rak pamer toko buku di Indonesia dengan novel-novel terjemahan. Pertumbuhan penerbit indie mulai menyemarakkan dunia perbukuan, melengkapi novel-novel kelas best-seller dunia. Kita tahu, mereka yang baru dan giat adalah KataKita, Banana Publisher, Ufuk Press, Dastan, dan sejumlah besar yang berkembang di Yogyakarta maupun Bandung, patut kita puji usahanya yang serius itu.

            Seorang teman, Pakcik Ahmad, yang telah membaca novel Bayang-bayang Pohon Delima menyampaikan pujian kepada pengarangnya, Tariq Ali. Ia berharap, di tanah air juga tumbuh novel-novel dengan nuansa Islam yang berakar pada sejarah perkembangannya. Saya sarankan untuk segera menyambungnya dengan Sultan dari Palermo dari pengarang yang sama. Dalam hal ini novel telah menggugah semangat sekaligus menumbuhkan perasaan rindu terhadap karya-karya bernas pengarang Indonesia.

            Sebuah komunitas yang menamakan diri Klub Sastra (bernaung di bawah Bentang Pustaka dan keluarganya) menyelenggarakan diskusi buku sastra sekali setiap bulan. Sekitar 80% bahan bahasannya adalah novel, baik dari pengarang Indonesia maupun terjemahan. Setidaknya, hampir secara berturut-turut membicarakan Sang Pemimpi (Andrea Hirata), Tsotsi (Athol Fugard) The Heart is A Lonely Hunter (Carson McCullers), dan yang hendak berlangsung: The Remains of The Day (Kazuo Ishiguro). Mengapa bukan buku puisi atau esai? Seperti yang telah disampaikan di depan, jumlahnya kurang memadai dan belum tentu yang terbit adalah karya dengan daya pikat tinggi untuk dibicarakan.

            Beberapa hari lalu, di bawah langit malam Aceh yang cerah, di tengah hiruk-pikuk para penyantap makanan khas buatan kedai-kedai kakilima Rex, dalam ruap aroma kopi telur yang menyergap hidung, kami lagi-lagi membicarakan pesona sejumlah novel dunia. Banyak pengarang yang telah melahirkan karya-karya besar, seperti Umberto Eco (The Name of The Rose), Victor Hugo (Les Miserable), Boris Pasternak (Doctor Zhivago), Milan Kundera (The Unbearable Lightness of Being), Gabriel Garcia Marquez (One Hundred Years of Solitude), Arundhati Roy (The God of Small Things), Maxim Gorky (Ibunda), Haruki Murakami (Norwegian Wood), James Joyce (Ulysses), Alexander Solzhenitsyn (Gulag) dan sederet daftar panjang lagi.

            Apa sesungguhnya yang kita peroleh dari teks-teksberatitu? Lebih jauh lagi, apa yang membuat mereka (para pengarang itu) menuliskan berjuta kata untuk kita para pembaca? Buat para pengarang, saya kira, buku-buku itu bakal menjadi jejak yang sangat berharga. Sementara bagi pembacanya diharapkan menjadi salah satu sumber cahaya yang menambah luas pandangan dan memperkaya cara berpikir.

            Memang ada semacam keheranan, mengapa dari Indonesia belum tumbuh novel-novel yang terpampang anggun di perpustakaan dunia selain Pramoedya Ananta Toer. Apakah lokalitas Indonesia belum sungguh-sungguh menarik bagi pembaca dunia sehingga hanya segelintir saja yang beroleh tempat itu, salah satunya The Dancer (Ronggeng Dukuh Paruk) karya Ahmad Tohari? Apa yang membuat para pengarang asing, termasuk dari Afrika, unggul dalam mengolah gagasan dari sumber-sumber tradisi lokalitas menjadi novel-novel kelas dunia?

            Bagaimana Orhan Pamuk sanggup menggambarkan sebuah kota dalam novel gemilang berjudul Istanbul? Bagaimana Milan Kundera mengakhiri novelnya di tengah, dengan cara bertutur yang demikian datar seolah tanpa emosi, selebihnya adalah flashback yang membuat segalanya terjadi. Agaknya gaya telah menjadi sisi yang perlu digarap, setelah materi sudah bukan persoalan lagi bagi mereka. Untuk kerinduan pada estetika yang memiliki kandungan isi berkualitas itu ingin saya sandarkan ke pundak para pengarang muda Indonesia agar tak berhenti mengeksplorasi. Kepada siapa lagi kalau bukan Seno Gumira Ajidarma, Oka Rusmini, Taufik Ikram Jamil, Gus tf Sakai, Andrea Hirata, Eka Kurniawan, Abidah el-Khalieqi, Sitok Srengenge, AS Laksana, Hermawan Aksan, Lan Fang, Dianing Widya Yudhistira…. Ditunggu, ditunggu selalu.

(Kurnia Effendi, untuk Tabloid Parle edisi 85)