Saturday, November 10, 2007

Ruh Pahlawan dalam Lirik Leo Kristi Dipandang dari Tujuh Kemungkinan

(1)

Mungkin secara kebetulan dan mungkin memang sudah menjadi niat awal Mas Leo untuk membuat lagu-lagu bertema pahlawan dan cinta tanah air. Kekuatan Leo Kristi, selain bicara tentang ketuhanan dan cinta, justru pada tema-tema pahlawan atau cinta kepada tanah air. Itu sebabnya, dulu, setiap tahun Mas Leo menjadi langganan pemerintah untuk nyanyi di hari kemerdekaan.

(2)

Mungkin karena Mas Leo lahir dan dibesarkan di Surabaya yang kita kenal sebagai kota pahlawan. Dalam sejarah, pada tanggal ini, terjadi perebutan bendera. Peristiwa ini sangat patriotik, dramatik, dan jelas-jelas mengungkapkan rasa cinta kepada bangsa dan kedaulatan Indonesia. Setidaknya arek-arek Suroboyo mewarisi darah pejuang yang akan terus mengalir sampai jauh. Nah, Surabaya yang dalam lagu Leo Kristi dijadikan semacam ikon, tak akan mengingkari ikatan emosional itu. Meskipun kemudian ada salah satu lagunya yang berjudul Tepi Surabaya, mengatakan: ... gema nyanyian pahlawan kini jadi nyanyian wayang...

(3)

Mungkin karena Mas Leo selalu melihat cinta dari yang paling hakiki. Apalagi kalau bukan cinta terhadap tanah tempat ia dilahirkan. Jadi seburuk apa pun perangai yang ditunjukkan oleh bangsanya (melalui pemerintahan, hukum, politik, keadilan, pendidikan, dan kebijakan ekonomi) ia tetap mencintainya. Oleh karena itu, Leo Kristi tidak menunjukkan keberpihakan. Yang diangkat selalu berupa potret. Jadi saat dia menyampaikan ketimpangan sosial yang dilihatnya, tidak disertai dendam. Simak saja pada ”Lewat Kiara Condong” atau ”Salam dari Desa”.  à....kapankah mereka lambaikan buku dan pena di tangan?....”   ”....roda giling berputar-putar, siang malam. Tapi bukan kami punya....”

(4)

Mungkin karena Mas Leo mengidentifikasikan dirinya sebagai pejuang (melalui musik yang dikuasainya) sehingga ia bisa dengan tepat menjadi seorang pemimpin bangsa yang terpenjara (”Tanah Merah in Memoriam”) à di sini hanya ada satu bangku yang dingin, namun selalu saja ada dengung ratusan nyamuk seakan pekik semangat rakyatku..., atau melihat pendahulunya tergeletak syahid sebagai pahlawan (”Langit Makin Merah Hitam”) à bongkah tanah digenggamnya, tanah air yang tercinta, dengan tiga butir peluru di dada, di dada...., atau mendengar intrik politik yang selalu mengucurkan darah korban perang (”Timor Timur”) à ... Hei tirani! Dengan senapan dan ujung bayonet, tak dapat kaupenjarakan jiwa kami. Dan di sini kami berdiri: satu hati, terus berjuang. Pengorbanan tak akan terbuang sia-sia….

(5)

Mungkin karena Mas Leo memiliki kekayaan hidup dari seluruh perjalanannya keliling Nusantara, sehingga ia melihat pahlawan dalam arti yang lebih luas. Seperti saya sampaikan di awal acara, pahlawan bagi Leo Kristi telah menjelma banyak peran. Seorang ibu yang cinta pada anaknya adalah pahlawan, lalu dikiaskan dalam ”Mutiara Pertiwi” à debur ombak memecah karang menyuarakan ibuku, gesekan kayu hutan menyuarakan ibuku, derap kaki telanjang menyuarakan ibuku....  Juga dalam  ”Umi Muda Serambi Tua”. Seorang nelayan yang tak pulang ke pesisir, dalam Lengganglenggung Badai Lautku, adalah pahlawan. à mengapa tak kembali, mengapa tak kembali... nelayanku. Kiranya nelayan muda kembali hanya perahu, meninggalkan istri lama bersedih menunggu.... Penyanyi pinggir jalan yang memberdayakan diri untuk tetap memelihara budaya yang kian termarjinalisasi, sang pesinden dan pemain musiknya, adalah pahlawan. Sudut Jalan Surabaya adalah cara enghormatannya à Pethetan yo kembang pethetan..... Mbak Ya, pemilik warung yang selalu menyajikan kopi kesukaan Mas Leo juga pahlawan, lalu diabadikan dalam lagu ”Aroma Tanah Hujan Pertama” à kuteringat Mbak Ya, kuingat manusia. Kulupakan duka, benar telah merdeka...   Seorang nenek adalah pahlawan bagi kakek serta sebaliknya. Mereka saling panggil dengan rasa sayang, cinta yang selalu mengerang dan kuat seperti karang. Itu tercermin dalam ”Pojok Kafe simpang Lima.” à kemarin hari ini, hari esok lubuk hati, cintaku tak kan sepi dalam mengabdi.... kakek oh kakek.... nenek, nenek....

(6)

Mungkin karena Mas Leo ingin tetap hidup dalam semangat, spirit yang hanya bisa dipetik dari cinta tulus seorang pahlawan dalam membela negaranya. Dalam kesepiannya yang mungkin tercetus melalui lagu ”Sendiri”, ”Solus Aegroti Suprema Lexest”, ”Kaki Langit Cintaku Berlabuh”, ”Pohon Tua Ranting Kering”,  atau ”Nyanyian Malam” dan yang lain, masih ada secara tersirat rasa cinta yang terlepas dari pamrih. Rasa cinta seperti itu hanya milik seorang pahlawan dan seorang ibu sejati. Kata ”peringatan dalam diam” di ”Bedil Sepuluh Dua Jelang Empat Puluh Tahun Merdeka” tak dapat disembunyikan dari makna kepahlawanan yang tak butuh deklarasi atau dilihat orang banyak. Toh Mas Leo di situ berjanji dalam janji....

(7)

Mungkin karena hanya Mas Leo sendiri yang tahu mengapa pahit-manis pengalaman hidupnya justru lebih terungkap melalui lagu-lagu yang mengusung tema kepahlawanan, patriotisme, potret yang multi tafsir, maka mohon maaf saya tak dapat mengungkap lebih terturai lagi kecuali sang troubadour itu bersedia membongkar proses kreatifnya di depan kita semua. Tapi yang paling saya suka adalah: kepercayaan pada esok dan lusa, aku suka.... Marga!

Salam

Kurnia Effendi, LKers (makalah untuk diskusi peringatan Hari Pahlawan, bersama Komunitas Leo Kristi di MP Book Point, 10 November 2007, pukul 16:00 WIB, mendampingi pembicara Arya Gunawan)