Friday, November 16, 2007

Teater Populer, Sanggar yang Merakyat

Lebaran telah berlalu, maka dua minggu yang lalu panitia masjid Jalan Kebon Pala I di wilayah Tanah Abang perlu mengadakan acara Halal-bihalal sebagai ajang silaturahmi warga. Mungkin di antara tetangga ada yang berlum sempat bertemu untuk saling maaf-memaafkan, keburu sibuk kembali dalam pekerjaan masing-masing. Oleh karena letak sanggar Teater Populer berada dalam kawasan Jalan Kebon Pala I, termasuk juga bagian keluarga yang terlibat dalam perhelatan itu.

Begitulah, tradisi menyelenggarakan acara malam halal bihalal yang dirintis tahun lalu, diulang dengan persiapan yang sebenarnya tidak terlalu panjang. Mereka menggunakan halaman dan jalan raya di depan Sanggar warisan Teguh Karya, maesenas legendaris Indonesia, sebagai tempat acara. 

            Slamet Rahardjo Djarot, sebagai ”ahli waris” Sanggar Teater Populer sungguh tidak menyangka, acaranya malam itu dihadiri oleh ratusan orang dari berbagai tempat. Menurut panitia, Mas Slamet sudah menyampaikan kepada sejumlah wartawan yang berniat hadir agar tidak meliput. ”Ini hanya acara lingkungan.” Namun ternyata, Minggu malam, 4 November 2007 itu, halaman sanggarnya penuh oleh orang yang bergembira, mulai dari anak-anak sampai orang-orang lanjut usia. Hal itu menunjukkan bahwa Teater Populer diterima dan melebur menjadi bagian masyarakat Kebon Pala Tanah Abang.

            Neno Warisman datang dan memberikan ceramah, terutama kepada anak-anak, bahkan dengan ”perpanjangan” waktu. ”Mas Slamet, boleh nggak diteruskan? Apakah waktu saya sudah habis?” Dari tempat duduknya, Slamet Rahardjo mempersilakan Neno melanjutkan materi cermahnya yang komunikatif dan lucu itu. Pada kesempatan itu, Neno sempat mengingatkan para orang tua agar hati-hati mengawasi pergaulan anaknya. Jangan sampai terbujuk pada pelbagai aliran agama (sempalan Islam) yang sedang marak akhir-akhir ini. Senada dengan himbauan Neno, Bang Dani Anwar, tokoh Betawi yang sempat mencalonkan diri sebagai Wagub DKI pada pilkada lalu, juga meminta kepada warganya untuk waspada. 

Acara bergulir dengan spontanitas dan kekeluargaan, mulai pukul 20:00 sampai menjelang pukul satu pagi. Di luar dugaan warga, Sanggar Teater Populer menyumbangkan uang senilai 5 juta, diserahkan oleh artis Yenny Rachman untuk 2 masjid di Jl. Kebon Pala I.

Yang unik dalam Halal-bihalal itu adalah kehadiran satu kelompok sanggar yang mengaku pernah menjadi murid Teguh Karya. Mereka datang dengan pakaian seperti para pahlawan (Soekarno, Sudirman, legiun veteran, dll.). Seluruh sajian makanan terbuat dari singkong dengan aneka menu Betawi. Bahkan tumpengnya pun dibuat dari irisan singkong yang dibentuk kerucut.

Panggung yang dibangun dengan sederhana menjadi arena hiburan. Di antaranya musik dangdut kampung setempat yang menyumbang acara. Kecuali Alex Komang, Helmi Sungkar, dan anggota Teater Populer yang sehari-hari bergiat di sanggar, tak tampak Christine Hakim dan Niniek L. Karim. Keduanya sedang sibuk di tempat lain, terutama Christine yang aktivitasnya mulai berkelas internasional.

            Mohon maaf lahir dan batin. ”Tahun depan, kita harus bisa lebih besar dari ini,” demikian harapan Mas Slamet.

(Kurnia Effendi)