Wednesday, September 03, 2008

Kemerdekaan dan Hak Asasi Manusia

Banyak cara memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Enam puluh tiga tahun sudah usia negeri kita, selama itu pula seharusnya kita terbebas dari penjajah. Penjajahan dalam bentuk apa pun. Dalam lebih dari enam dekade terjadilah pergolakan politik, pasang-surut ekonomi, perkembangan sosial budaya, keamanan nasional dan pertahanan yang berulang kali mencemaskan, disertai persoalan hukum yang masih carut-marut, dan ideologi yang mulai dipertanyakan. Semua menghiasi sejarah panjang tumbuhnya negara Indonesia.

Sudah dewasakah masyarakat dan pemerintah kita? Ditilik dari umur, seharusnya bukan hanya dewasa, tetapi nyaris uzur. Namun dari tahun ke tahun masih saja merasa dalam pembelajaran yang tiada henti. Seolah kita tidak pernah bercermin pada kejadian sebelumnya untuk perbaikan di kemudian hari.

Di seantero wilayah Nusantara, penanda paling kuat di bulan Agustus, sebagai bulan kemerdekaan, adalah warna merah putih. Sejak bendera yang dikibarkan menjelang tanggal 17, umbul-umbul, gapura di tiap ujung gang perumahan, pita, emblem, sampai dengan spanduk. Mengisyaratkan kebanggan terhadap panji-panji bangsa. Iklan media massa maupun audio-visual merujuk pula pada merah putih sebagai aksen tematik.

Cara rakyat merayakan kemenangan negeri tercinta ini beraneka ragam. Lomba olah raga berbagai cabang (biasanya di kantor dan komplek perumahan), karya seni, atau gabungan dari keduanya, dan bermacam-macam permainan. Di Jalan Inspeksi Kalimalang, terutama yang sejajar dengan komplek penjual buah, selalu padat dan bahkan buntu, pada peringatan HUT RI. Pasalnya, pada sungai yang airnya mengalir kuning itu, akan terjadi pertunjukan rakyat gratis, mengundang emosi geregetan dan tawa.

Berpuluh batang pinang ditanam miring dari tebing sungai untuk lomba panjat memperebutkan hadiah yang terpasang di pucuknya. Bermacam hadiah digantung pada baling-baling bilah bambu, antara lain sepeda, mini compo, rice cooker, magic jare, dan sejenisnya. Dapat dibayangkan sejak awal, setiap pemanjat yang terpeleset oleh licinnya batang pinang beroles gemuk itu akan tercebur ke sungai. Itulah tontonan rakyat yang menyegarkan meski berlangsung di siang yang terik.

Kaum seniman berbeda lagi cara merayakan ulang tahun RI. Pusat Kesenian Jakarta menyediakan panggung di pelataran parkir Taman Ismail Marzuki selama dua malam bertutut-turut. Malam pertama, 16 Agustus 2008, panggung dipercayakan kepada Komunitas Leo Kristi dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) untuk mengisinya. Acara yang dibuka dengan penampilan Sanggar Seni anak-anak “Kecebong”, mengundang banyak penonton untuk duduk lesehan di plaza TIM. Para LKers, sebutan akrab bagi komunitas penggemar lagu-lagu Leo Kristi, menyanyikan hampir 20 lagu yang dibagi menjadi 3 babak penampilan. Dengan gitaris andal Rezza Suhendra dan Gamawan Waloeya, mereka mengumandangkan antara lain: ”Dirgahayu Indonesia Raya”, ”Hitam Putih”, ”Serenada Pagi 1971”, ”Nyanyian Tanah Merdeka”, ”Mutiara Pertiwi”, ”Biru Emas Bintang Tani”, ”Pohon Kemesraan”, ”Bedil Sepuluh Dua Jelang… 63 Tahun Merdeka”.

Sejumlah penyair Jabotabek dan Bandung, sebagian besar terhimpun dalam KSI, membacakan puisi patriotisme. Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, Endang Supriadi, Budhi Setyawan, Leon Agusta, turut naik pentas. Menjelang tengah malam, Prof Dr. Abdul Hadi WM menyampaikan orasi kebudayaan. Penyair ini dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Paramadina bulan Juni yang lalu. Ia menyampaikan ulasan tentang perkembangan ekonomi dan budaya dalam beberapa tahun terakhir ini.

Pada malam berikutnya, panggung rakyat di plaza TIM itu dipenuhi oleh para pecinta musik reggae. Indo Reggae mengundang 16 band, yang menghentak malam 17 Agustus dengan musik yang membawa hanyut hingga pukul 2 dinihari.

Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta menyelenggarakan peringatan dengan memadukan antara talk show dan parade puisi di Studio B yang disiarkan secara langsung 15 Agustus 2008 malam. Sebagai pengantar untuk menghangatkan suasana, sejumlah puisi dimusikalisasi oleh Deavies Sanggar Matahari dengan syahdu namun mengandung energi patriotisme. Usai warta berita pukul 20:00, Parni Hadi, Direktur RRI membuka acara sekaligus menjadi panelis talk show. Sebagai pembicara, antara lain: Meutia Hatta, Muhammad Nuh, Andi Mallarangeng, Eko Ciptadi, Ahmadun Yosi Herfanda, Taufik Effendi, dll.

Dengan tema ”Nasionalisme dan Indonesia di Masa Depan”, Parni Hadi menggali pendapat masing-masing panelis untuk menjelaskan tafsir mereka dan visi tentang Indonesia. “Masa depan bangsa dikontribusi oleh seorang ibu yang baik, karena ia memberi pendidikan awal kepada anaknya agar memiliki mental dan moral yang dapat dipertanggungjawabkan,” kira-kira demikian menurut Meutia Hatta.

Nasionalisme bagi Ahmadun adalah tiga serangkai antara cinta, peduli, dan berbuat. Seseorang yang cinta kepada bangsanya seharusnya memberikan perhatian dengan kepedulian dan berbuat sesuatu untuk membuktikan cintanya. Sedangkan Andi Mallarangeng menyampaikan isi hatinya dengan bernyanyi. Ia melagukan “Nyanyian Tanah Merdeka” karya Leo Kristi dengan lantang. Itulah nasionalisme. “Apa lagi kau tunggu saudara, ayo nyalakan api hatimu!”

Kaum intelektual muda dari kalangan yang berbeda, memasukkan agenda peringatan HUT RI dalam serangkaian kegiatan panjang. Kalyanashira, lembaga yang dikomandani Nia Dinata, menyelenggarakan berbagai acara seperti pemutaran film dan diskusi. Salah satu diskusi, membahas tentang Kemerdekaan HAM, sebagai bagian yang dikaitkan dengan ulang tahun Indonesia.

Berlangsung di Erasmu Huis, 14 Agustus 2008, Rabu malam, mereka mengundang pembicara: Rocky Gerung, Rieke Dyah Pitaloka, Mariana Amiruddin, dan Pendeta Esther. Acara yang dipandu oleh Vivian Idris itu lebih banyak membicarakan tentang hak-hak masyarakat yang terpinggirkan. Kemerdekaan bagi bangsa seharusnya seiring dengan kebebasan berekspresi (seni), kebebasan menyampaikan pendapat, kebebasan memilih agama, bahkan kebebasan dalam bestatus. Pendeta Esther menceritakan pengalamannya di beberapa wilayah Indonesia Timur dan mengenai kehidupan kaum lesbian-gay-bisexual-transgender-intersex-questioning (LGBTIQ) yang masih terombang-ambing posisinya di tengah pergaulan masyarakat.

Film pendek yang diputar menjelang Nia Dinata bicara sebagai keynotes speaker, adalah dokumentasi peristiwa penyerangan Front Pembela Islam (FPI) terhadap AKKKB di Monas beberapa waktu yang lalu. Terlepas dari benar atau salah, tindakan anarkis itu membuktikan bahwa masih ada ketidakmerdekaan masyarakat Indonesia dalam menentukan hak hidupnya.

Rocky Gerung menandaskan bahwa yang sangat diperlukan saat ini adalah kemerdekaan berimajinasi. Imajiniasi memang dekat dengan gagasan, sementara ide adalah awal mula kreativitas. Padahal, kemerdekaan yang erat hubungannya dengan hak asasi manusia, menurut Muzdah (undangan yang diminta bicara), sudah pernah diungkap oleh Al-Ghazali. Menurut pemikir Islam yang hidup di abad 11 itu, manusia sedikitnya memiliki 5 hak asasi yang tak boleh diganggu gugat sepanjang tidak melanggar hak asasi orang lain. Hak untuk hidup, hak mengutarakan pendapat, hak untuk memilih keyakinan, sampai dengan hak memiliki properti. Dengan kata lain, seperti “dituduhkan” sebagian orang bahwa hak asasi jauh dari konsep Islam, anggapan itu keliru.

Berdasarkan catatan yang diperoleh oleh Rieke, di era Orde Baru banyak film yang dijegal oleh Badan Sensor Film (BSF) karena dianggap mengganggu stabilitas politik. Contoh lucu yang sempat dilontarkan adalah, misalnya, film komedi “Kanan-Kiri Oke” yang disarankan diganti menjadi “Kiri-Kanan Oke”, lantaran “kiri” dianggap radikal. “Nyoman dan Presiden” diubah menjadi “Nyoman dan Ayahnya”

Sepenting apa kemerdekaan buat kita? Kata seorang penggarap film, Tino, yang juga menjadi pembicara, kata “merdeka” tak perlu lagi diucapkan karena kita sudah merdeka. Persoalannya, setelah 63 tahun ini, mengapa masih banyak pengangguran di negeri kita? Mengapa masih banyak anak-anak terlantar pendidikannya? Mengapa tingkat kriminalitas masih tinggi? Dan yang terpenting: mengapa penegak hukum tidak juga menjalankan amanat dan sumpahnya?

(Kurnia Effendi)

 

 

 

 

1 Comments:

Blogger Nolan Lasar said...

Hai......

1:08 AM  

Post a Comment

<< Home