Tuesday, October 21, 2008

25 Tahun Mizan

Menjelajah Semesta Hikmah

Banyak penanda diletakkan pada peringatan 25 tahun Mizan Group, sebagai titik awal baru untuk meneruskan perjalanan. Haidar Bagir menulis dalam pidato yang dibacakan oleh Ratih Sanggarwati, dengan pernyataan syukur dan upaya untuk tetap rendah hati.

“Yang kami lakukan hanyalah mengais kebenaran yang terserak. Setelah seperempat abad berlangsung, mungkin baru beberapa keping saja yang dapat kami kumpulkan. Dua puluh lima tahun, satu generasi telah lewat. Namun dengan kebenaran dan kesabaran, tak ada waktu selama apapun dianggap terlampau panjang. Kami masih hendak meneruskan perjalanan, menjelajah semesta hikmah.”

Mizan, sebagai penerbit, didirikan oleh 3 orang yang saat itu, 1983, belum lulus kuliah. Mereka adalah Haidar Bagir, Ali Abdullah, dan Zainal Abidin Shahab. Awalnya memang menerbitkan buku-buku agama atau yang bernapaskan Islam. “Seri Cendekiawan Muslim”, dalam catatan Putut Widjanarko, adalah rekaman terlengkap Mizan atas jejak-jejak pemikiran para intelektual Muslim Indonesia. Namun kini, tema-tema dan genre yang diterbitkan oleh Mizan semakin meluas. Sampai, boleh dikatakan, seri “Kecil-Kecil Punya Karya” adalah cara Mizan mewadahi para penulis cilik yang ingin menyampaikan gagasannya kepada khalayak pembaca.

Kelompok Mizan telah sampai pada tahap mediamorfosis. Roger Fidler (pada tahun 2003) menyebut mediamorfosis sebagai istilah yang menandai proses metamorfosis media komunikasi akibat hubungan timbal-balik yang kompleks antara kebutuhan konsumen, tekanan persaingan bisnis, pelbagai inovasi sosial, dan teknologi. Fidler menengarai tiga konsep kunci mediamorfosis, yakni koevolusi, konvergensi, dan kompleksitas.

Demikianlah, Mizan telah berkembang pesat, dapat ditunjukkan melalui sejumlah anak-anak perusahaan (penerbitan) yang semakin spesifik menangani lini buku tertentu. Di bawah payung besarnya, dapat disebut antara lain: Hikmah, Qanita, DaarMizan, Bentang Pustaka (sebelumnya Bentang Budaya), C-Publishing, Mizania, Lingkar Pena Publishing House, B-First, dan beberapa lagi. Selain itu, mengikuti jejak Kompas-Gramedia, Mizan juga memiliki toko buku bernama Mizan Publika (MP Book Point), yang ada di Jakarta dan Yogyakarta. Walaupun belum tampak gebyarnya, toko buku itu sedikit mengarah pada ruang komunitas dengan pelbagai kegiatan off-air, seperti yang pernah dirintis oleh QB (Richard Oh).

Bukan hanya itu, kini Mizan tengah mengembangkan bisnis baru di bidang sinema dengan nama Mizan Production. Produksi pertamanya adalah film Laskar Pelangi (diangkat dari novel fenomenal karya Andrea Hirata), bekerja sama dengan Miles (Mira Lesmana Production). Debut pertama yang menyenangkan, karena film tersebut diduga akan menjadi box office.

Ulang tahun Mizan yang ke seperempat abad itu digelar di auditorium Succofindo, Jakarta Selatan. Sejumlah penanda yang disematkan pada usia ke-25 itu, antara lain: pengukuhan dan peluncuran Kuntowijoyo Award, penghargaan Mizan terhadap tokoh yang berjasa dalam dunia perbukuan (Andy F. Noya) dan penulis novel fenomenal dengan penjualan tertinggi saat ini (Andrea Hirata). Selebihnya, Kelompok Mizan memperkenalkan film perdananya, Laskar Pelangi, dengan memutar thriller dan menyanyikan lagu tema: “Seroja” dan “Laskar Pelangi”. Lagu “Laskar Pelangi” diciptakan dan dinyanyikan oleh grup musik Nidji.

Pertanyaannya sekarang, mengapa Kuntowijoyo, Andy Noya, dan Andrea Hirata?

Kuntowijoyo mendapat gelar sebagai Penulis Terbaik (1998) dari Mizan. Ikatan historikal ini boleh jadi menjadi alasan utama, dengan penilaian yang telah mempertimbangkan semua unsur kelahiran gelar itu secara kompetitif denga nama penulis lain. Dalam esai Putut Widjanarko yang ditulis sesaat setelah Kuntowijoyo meninggal (2005), disebutkan bahwa energi-intelektualnya begitu dahsyat. Perjuangan untuk tetap menulis dengan mutu yang tak kendur ketika ia mengidap penyakit degeneratif, membuktikan kedahsyatan itu. Karya-karyanya yang berbobot, dengan merangkum Islam, filsafat, dan tradisi Jawa, antara lain: Khotbah di Atas Bukit, Pasar, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Suluk Awang-Uwung, Mantra Pejinak Ular. Dan yang tak dilupakan, pernah secara berturut-turut 3 tahun memenangkan cerpen pilihan Kompas.

 Andy Noya, seperti yang kita keahui bersama adalah pemilik acara Kick Andy yang ketenarannya meluas itu. Dalam deretan penampilannya, banyak memperkenalkan buku-buku berkualitas, yang memiliki dampak positif bagi para pembacanya. Ia, menurut Mizan, mirip dengan Oprah Winfrey, presenter terkaya Amerika yang bahkan memiliki semacam lembaga untuk merekomendasikan buku-buku bagus. Andy Noya dianggap telah berjasa dalam dunia perbukuan, karena setiap buku yang direkomendasi dalam acaranya mendapat sambutan luas di tengah masyarakat.

Untuk Andrea Hirata, tak pelak lagi, harum namanya oleh novel tetralogi Laskar Pelangi. Hingga kini, telah terjual lebih dari 500 ribu eksemplar. Meskipun menurut pengakuannya, bahkan andaikata nanti menyentuh angka sejuta, masih jauh dibandingkan jumlah penduduk Indonesia (yang tak suka membaca). Novel itu telah memotivasi banyak orang di Indonesia terutama terkait dengan pendidikan dan harapan untuk meraih masa depan. Jasa Laskar Pelangi itu membuat Andrea menapak puncak popularitas dan mencatat sejarah sastrawan termahal saat ini. Kini, filmnya yang telah beredar luas, dalam satu setengah bulan sudah menjaring 2 juta penonton.

Malam itu, 20 September, bahkan Jakob Oetama, orang nomor satu Kompas-Gramedia Group, berkenan hadir dan berpidato untuk ulang tahun Mizan. Menurutnya, Mizan telah banyak berjasa membuka wawasan pembaca dan besar kontribusinya dalam sejarah perbukuan di Indonesia. Tentu dalam era yang lebih kompetitif sekaligus penuh gairah. Kesabaran dan kesadaran Mizan untuk mengisi jumlah penerbitan buku di Indonesia patut dipuji. Pada akhirnya, penerbit di Indonesia tidak lagi saling mendominasi, karena justru harus bahu-membahu berupaya mencerdaskan bangsa melalui karya-karya berkualitas.

Secara pribadi, Haidar Bagir, yang lebih familiar terjun ke wilayah operasional, selalu memperhatikan mutu buku. “Jangan hanya mengambil keuntungan dari penjualan, tetapi berikanlah buku-buku berkualitas kepada pembaca. Tanpa pembaca setia, Mizan bukan apa-apa.”

Andaikata dunia perbukuan di Indonesia semaju negara Eropa dan Asia yang lain, mungkin tingkat intelektual warganegara dunia ketiga ini akan menempati posisi yang lebih baik. Mudah-mudahan krisis yang sedang melaju dari arah Amerika tidak menurunkan semangat belajar manusia Indonesia dari buku. (Kurnia Effendi).