Thursday, October 16, 2008

Mengenal "Multiple Intelligences

Pendidikan umumnya dikaitkan dengan tingkat kecerdasan. Tujuan pendidikan secara umum adalah untuk mencerdaskan seseorang, membekali ilmu dan pengetahuan untuk menghadapi persoalan-persoalan hidup. Secara formal maupun informal (melalui keluarga atau lingkungan diskursus). Lembaga pendidikan merupakan tempat dan sarana untuk mengubah seseorang dari strata awal menuju strata lanjut.

Satu dan lain orang masing-masing merupakan pribadi unik. Oleh sebab itu, pendidikan yang sama dapat menghasilkan orang-orang yang berbeda. Semua itu terkait dengan skala minat, bakat, atau talenta, dan kegigihan masing-masing dalam menggunakan waktu dan cara menyerap ilmu. Pola asuh dalam keluarga pun membentuk sosok pribadi yang berbeda satu sama lain, meskipun digodok dalam almamater yang sama. Lingkungan di luar sekolah berkontribusi penting terhadap pembentukan karakter seseorang.

Dulu kita hanya mengenal satu macam kecerdasan. Seseorang akan dianggap pintar bila dapat memecahkan soal hitungan dengan lekas dan tepat. Muncul sebuah metode untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang dengan nama Intelligence Quotient (IQ). Bertahun-tahun, parameter itu digunakan untuk menentukan seseorang berada pada posisi tertentu: cerdas, genius (ekstrem positif), dan idiot (esktrem negatif). Para orang tua sering dianjurkan oleh guru TK, SD, atau SMP mereka untuk menguji anak-anaknya dengan tes IQ.

Selanjutnya, seiring dengan kemajuan ilmu psikologi, “lahir” parameter baru untuk menilik kecerdasan manusia dari sisi yang berbeda. Emotional Quotient. Pada perkembangan penelitian, tingkat emosi manusia ternyata sangat berpengaruh terhadap kecerdasan yang ditunjukkan dalam perilaku atau tindakan. Respon seseorang atas aksi (serangan ucapan, peristiwa, atau kondisi alam) memperlihatkan tataran emosi. Apakah emosi itu tampak “cerdas” atau “bodoh”. Boleh jadi, kecerdasan seseorang dalam matematik tidak serta-merta mendukung kecerdasannya dalam berperilaku.

Unsur empati dalam kecerdasan emosi sangat berpengaruh. Jam terbang seseorang dalam menghadapi situasi sulit akan memperkuat basis kecerdasan emosi. Lingkungan pendidikan keluarga, pondasi moral yang ditanamkan, dan adanya keteladanan, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pertumbuhan emosi seseorang. Dalam sebuah pelatihan 7 Habits, pernah ditanyakan: “Apakah perilaku orang yang tidak menyenangkan terhadap anda sanggup membuat anda marah?”

Jawabannya: “Tidak. Marah dan tidak marah adalah keputusan saya.”

Mungkin itulah bagian dari kecerdasan emosi. Ungkapan Gandhi terhadap kaumnya, berbunyi seperti ini: “Tidak seorang pun boleh menghina saya kecuali atas izin saya.” Sebuah jiwa besar yang dicontohkan oleh orang besar, negarawan yang memiliki tingkat kecerdasan emosi sangat tinggi.

Belakangan muncul tingkat kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Orang-orang dengan kepasrahan transendental, mengembalikan semua persoalan dunia kepada hukum takdir dan ikhtiar, memiliki tingkat kecerdasan spiritual. Ada nilai sufistik dan kepercayaan terhadap kekuatan yang tak tampak sebagai pengendali gerak hati maupun raga. Kesabaran menjadi inti dari kecerdasan spiritual. Dalam kisah para nabi, disampaikan bahwa sifat ulul azmi adalah posisi terhormat yang tak sembarang manusia sanggup menyentuhnya. Dengan kecerdasan spiritual, emosi lebih terkendali. Dengan kecerdasan spiritual, segala hal yang bersifat duniawi tidak lagi menjadi parameter utama.

Berdasarkan kecerdasan umum yang ditandai dengan skala IQ, sejumlah lembaga pendidikan mencoba mendapatkan cara efektif dalam melahirkan para cendekia. SMA Negeri 8 di Jakarta Timur sebagai sekolah unggulan nasional sudah sejak lama melakukan sistem akselerasi. Bagi siswa dengan kecerdasan di atas rata-rata mendapat kesempatan lompat kelas (bukan sekadar naik kelas). Banyak pula SMP yang mengelompokkan siswa-siswa dengan kepandaian di atas rata-rata menjadi satu kelas unggulan. Dengan cara itu, pelajaran akan diserap lebih cepat dan merata, tak harus terhambat oleh murid yang lamban penangkapan.

Buku-buku ajar untuk siswa, mula-mula materinya hanya menggunakan basis kurikulum tahun tertentu. Selanjutnya dengan basis kompetensi, agar anak didik bersiap menjadi lulusan yang memiliki daya saing tinggi. Potensi siswa diasah, ditantang, dan diarahkan menjadi tunas-tunas unggul untuk meraih pendidikan lanjutan.

Pada 1983, profesor pendidikan Universitas Harvard, Howard Gardner, memperkenalkan kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences). Ia menyimpulkan paham itu, karena ternyata tidak ada manusia “bodoh”. Ketika seorang anak tak sanggup menyelesaikan soal matematika sederhana, dulu dicap bodoh. Namun kini, siswa yang lemah dalam hitung-hitungan dapat diuji kecerdasan lainnya untuk mendapat predikat pintar. Mungkin dia memiliki bakat tinggi dalam seni (musik, sastra, rupa), atau justru piawai dalam memengaruhi orang lain melalui kemampuan persuasif yang tinggi. Jadilah ia organisatoris ulung atau pemain musik andal.

Dalam multiple intelligences dikenal 8 jenis kecerdasan. Linguistik, Matematik-Logis, Spasial, Kinestetik-Jasmani, Musikal, Interpersonal, Intrapersonal, dan Naturalis. Teori ini merupakan koreksi atas Intelligences Quotient yang diperkenalkan oleh Alfred Binet sejak 1904.

Kecerdasan musikal adalah kemampuan seseorang mengapresiasi, membedakan, menggubah, dan mengekspresikan potensi musik dirinya. Sedangkan kecerdasan kinestetik-jasmani lebih berpusat pada keahlian menggunakan seluruh tubuh dalam menyampaikan ide, perasaan, dan keterampilan; semacam bahasa tubuh. Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan memahami diri sendiri sebagai dasar setiap tindakan. Berbeda dengan interpersonal yang mempersepsikan dan membedakan suasana hati, motivasi diri dan perasaan orang lain. Orang dengan kecerdasan interpersonal sangat cocok dan berbakat menjadi politikus.

Matematis-logis dekat hubungannya dengan IQ yang mengukur kepandaian dari angka dan penalaran secara tepat. Sedangkan kecerdasan spasial lebih erat dengan bagaimana mengekspresikan dunia visual, kemampuan mentransformasikan pada kehidupan. Umumnya sensitif terhadap warna, garis, bidang, ruang, dan bentuk.

Tetapi, percaya atau tidak, sepuluh tahunan sebelum Howard Gardner memperkenalkan multiple intelligences, Ibu Muslimah, guru SD Muhammadiyah di desa Gantong, Belitong, sudah mempraktikkan tentang kecerdasan majemuk. Ia tidak pernah ‘melihat’ ada murid yang bodoh, karena sesungguhnya setiap anak didik memiliki kecerdasan di bidang masing-masing. Dasarnya adalah mengajar dengan kasih sayang.

Tidak hanya itu, Ibu Muslimah (tokoh nyata dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata) juga menjalankan pendidikan inklusif. Sampai kini, bahkan. Ia menempatkan anak dengan kelemahan mental dan fisik tertentu di tengah murid lain yang normal. Hasilnya jauh lebih baik bagi si cacat karena ia telah menjadi bagian yang sama dengan si normal, diterima apa adanya, tidak dengan fasilitas khusus yang cenderung memanjakan.

Bagaimana tanggapan para guru di Indonesia dengan kedua “aliran” (multiple intelligences dan inklusif) ini? Sebuah tantangan untuk menuju pendidikan Indonesia yang lebih baik.

(Kurnia Effendi)