Thursday, January 15, 2009

Newseum sebagai Ruang Alternatif

Newseum merupakan ringkasan antara News (berita) dan Museum (sebuah tempat menyimpan dan memamerkan benda-benda memorabilia secara tematik). Newseum, dalam positioning-nya menjadi tempat menyimpan kenangan yang berhubungan dengan berita, dalam hal ini semacam ruang arsip surat kabar.

Taufik Rahzen sebagai pemilik dan pengelola berulang kali menyatakan, bahwa Newseum yang menggabungkan antara Café Domus (disebut juga Café Matahari) dan galeri untuk berpameran adalah tempat bersejarah. Di dalam café, lantai dua, terdapat sebuah panggung untuk pertunjukan musik atau diskusi. Di latar belakang pangung, juga di dinding kiri dan kanan, dihiasi dengan perwajahan sekitar 500 media massa Indonesia maupun internasional yang pernah terbit sejak sebelum kemerdekaan.

Sangat menarik, karena keseriusan Taufik Rahzen sebagai penggemar buku, ditunjukkan pada kegiatan yang terkait erat dengan berita. News merupakan daya hidup, untaian peristiwa yang terdokumentasikan, sehingga boleh dikatakan sebagai sejarah yang dapat dilirik kembali apabila perlu.

Menurut pengakuannya, ia bisa membeli buku lebih dari 100 buah setiap bulannya. Taufik Rahzen pantang meminta buku dengan gratis, kecuali mungkin memang mendapatkan hadiah dari seorang pengarang yang sedang meluncurkan bukunya di Newseum. Bahkan kalau buku yang di-launching itu dijual, Taufik akan memilih membelinya. Kapan waktunya untuk membaca? Atau pertanyaan yang lebih tajam: Apakah buku-buku itu semua dibaca?

Secara manusiawi, kita tahu kemampuan seseorang dalam membaca. Apalagi Taufik Rahzen memiliki kegiatan yang padat sehari-harinya. Oleh karena itu, pantas jika ia menggunakan teknik membaca tertentu untuk menikmati buku-buku yang dibelinya, baik di dalam maupun di luar negeri. Ia akan memilih membaca buku yang benar-benar menarik atau sedang hangat dalam pembicaraan, atau karena ia diminta bicara tentang buku itu.

Ia pun tidak bekerja sendiri untuk mengurus Newseum agar terus eksis dan tersosialisasi ke segenap masyarakat, terutama di Jakarta. Muhidin M. Dahlan yang kerap dipanggil sebagai Gus Muh, dipercaya oleh Taufik Rahzen untuk mengelola perpustakaan dan penerbitan. Naskah-naskah yang dihimpun kemudian diterbitkan, terhubung erat dengan masalah sejarah sosial politik dan persuratkabaran. Beberapa buku yang telah terbit antara lain bunga rampai jurnalistik sepanjang sejarah media massa di Indonesia, dan yang paling baru: Lekra Tidak Membakar Buku-Buku. Namun, begitu buku itu beredar setelah peluncuran dan diskusi, langsung dicabut dari pasar lantaran covernya menggambarkan lambang palu dan arit secara embossed tanpa warna. Lambang palu-arit merupakan tanda gambar Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dilarang sejak zaman Soekarno bahkan meletuskan revolusi berdarah tahun 1965. Mula-mula jaringan toko buku Gramedia menolak untuk men-display dan menjualnya.

Rupanya masih ada perbedaan persepsi pemikiran di tengah masyarakat demokrasi Indonesia dewasa ini. Partai terlarang masih dianggap bahaya laten. Partai terlarang dengan segala kegiatan yang bahkan telah merugikan keturunannya (di zaman Orde Baru, keluarga dan keturunan anggota PKI tidak memperoleh pekerjaan resmi), seolah selamanya menjadiharamuntuk diperbincangkan. Fakta tentang para budayawan Lekra (LEmbaga Kesenian RAkyat) yang berporos pada PKI tak dapat dihapuskan begitu saja. Sementara fakta lain bahwa orang-orang Lekra tidak membakar buku-buku sastra dan budaya pada masa itu sebegaimana dituduhkan selama ini, sulit mendapatkan tempat untuk dibaca khalayak. Justru, mereka membakar buku-buku terbitan Lekra sendiri yang dilarang beredar.

Newseum berdiri dan berkembang di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai alternatif sekaligus solusi bagi perbincangan yang berpijak pada demokratisasi. Mengambil alih fungsi tempat bersejarah di Jalan Veteran, Newseum memang menyimpan histori seorang mata-mata (spy) terkenal dunia bernama Matahari. Ia seorang artis cantik dari Prancis, idola banyak orang. Sebelum ditangkap dan dipenjara, di café itulah tempatnya bersosialisasi dengan para pejabat tinggi Negara.

“Di tempat ini pula, Westerling pernah merencanakan aksinya,” kata Taufik Rahzen suatu saat. “Newseum, tanpa mengubah banyak dari bangunan aslinya, kami sediakan untuk teman-teman menyelenggarakan kegiatan. Jangan bicara harga, karena kami lebih mementingkan kehidupan seni budaya dapat berkembang di tempat ini.”

Di tahun 2009, Taufik Rahzen membuka kesempatan kepada kaum muda untuk beraktivitas di Newseum. Pameran lukisan terus berjalan, peluncuran buku secara berkala menjadi agenda di sana. Belum lama ini, digelar pertunjukan musikalisasi puisi Ari-Reda yang berhasil mengumpulkan penggemar tahun 80-an menjadi semacam reuni. Rencananya, setiap malam bulan purnama, Ari-Reda akan tampil menghibur sekaligus bernostalgia dengan lagu-lagu jenis irama folk. Biasanya, selain lagu-lagu Bread, John Denver, dan sejenisnya, Ari-Reda menyanyikan lagu-lagu dari puisi Sapardi Djoko Damono.

Kegiatan akan diperkaya dengan pertunjukan teater kontemporer dari kelompok-kelompok yang dianggap kreatif. Dengan biaya minimalis, pentas mereka dimaksudkan sebagai ekspresi eksperimentasi. Dalam kegiatan ini, berdiri di belakang layar seorang konseptor seni rupa Irawan Karseno dan seorang pengamat seni panggung Seno Joko Suyono (wartawan Tempo). Mereka merancang pertunjukan 10-12 kali sepanjang tahun (sebulan sekali).

Dengan warna aneka, Newseum bakal menjadi ruang alternatif untuk menyampaikan gagasan, mencari jawaban persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, dan media ekspresi seni lukis (diam) mapun teater (bergerak). Masih terbuka luas kesempatan bagi para kreator yang membutuhkan panggung, para seniman yang memerlukan galeri, dan para sastrawan yang ingin berdiskusi tentang bukunya.

Mudah-mudahan iklim demokrasi dengan kebebasan nilai yang netral tetap bisa berkembang melalui orang-orang muda, sehingga tidak lagi ada penindasan atas kelompok oleh kelompok. Dominasi budaya tertentu yang menggerus seni tradisi dengan pencerapan nilai-nilai Barat tanpa memandang risiko hilangnya jati diri, tidak meluap-luap dan menimbulkan friksi. Kemampuan memberikan keseimbangan itulah yang diharapkan dapat tumbuh dengan leluasa. Newseum, mungkin salah satu tempatnya, untuk mewujudkan keseimbangan sosial, budaya, dan politik di negeri ini melalui pemikiran-pemikiran terbuka.

(Kurnia Effendi)

 

2 Comments:

Anonymous Anonymous said...

taufik rahzen ternyata bukanlah budayawan sehebat yg saya kira. slogan anti violence manifesto yang tersemat dg hormat di pundak taufik rahzen seketika luntur ketika saya melihat secara langsung taufik rahzen membentak2 pegawenya tanpa alasan yg jelas. membanting kursi pula,memalukan.pdhal untuk membayar gaji pegawenya saja dia mengangsur,bahkan dipotong sanasini.seorang taufik tidaklah tahu perjuangan orang kecil yg menggantungkan hidupnya dg bkrja d kafe.sumpah,rasa kagum saya terhadap beliau sirna skrang, berganti rasa muak dan mual. gelar budayawan ternyata cuma topeng.

9:12 AM  
Blogger raybanoutlet001 said...

oakley sunglasses
michael kors outlet
oakley sunglasses
coach outlet store online
ugg outlet
nike store
ugg boots
coach outlet
ugg boots
ugg outlet

3:33 PM  

Post a Comment

<< Home